Waktu kecil, aku berpikir
akan menikah di usia 25 tahun ke atas. Namun, saat aku mulai menyukai
seseorang, rasanya aku sangat ingin segera menikah, lupa dengan target usia
nikah waktu kecil. Apalagi melihat orang-orang yang nikah muda tetapi sukses,
misalnya saja Ahmad Rifai Rifan, seorang penulis. Tetapi disisi lain jika
melihat teman seusiaku menikah tetapi usia pernikahannya tak sampai setahun
sudah berantakan, bercerai, jadi terselip rasa takut di hati. Semakin berpikir
tentang nikah, aku sadar, bukan target usia yang penting, melainkan “kesiapan”.
Siap menikah, siap menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu. Dan kesiapan
tersebut tentu tak sesimple itu.
Pernikahan bukan sesuatu
yang sepele. Pernikahan tak melulu bicara akan sastra selangkangan, reproduksi,
berkasih-kasih suami istri. Menikah tak semata-mata menghalalkan dan meresmikan
hubungan di mata agama maupun hukum. Menikah bukan sesuatu yang instan bak
sulapan, sim salabim abra kadabra.