Kata orang kau akan menyesal jika
tidak pernah mengungkapkan perasaanmu pada si dia. Ah tapi aku tak peduli,
karena seasik-asiknya menyukai seseorang memang dengan diam-diam. Tidak
percayakah? Ya terserah, karena memang opini orang berbeda-beda. Yuk simak
opiniku, J
Berkali-kali aku menyukai seseorang,
dan berkali-kali itu kusembunyikan perasaanku. Anehnya orang-orang yang kusukai
itu lebih tua dariku, sekitar 6 tahunan ke atas, kecuali 1 yang lebih muda
dariku beberapa bulan, hehe :D
Kusadari, aku memang tipe-tipe wanita
yang mudah menyukai lelaki, tetapi sebenarnya aku tidak mudah melupakan. Aku
akan mulai bisa melupakan saat aku menemukan seseorang lainnya yang kusuka.
Pada orang-orang yang lebih tua
dariku itu aku selalu sembunyikan perasaanku. Meskipun mereka menunjukkan dan
mengungkapkan rasanya padaku, tetap aku hanya terdiam. Bahkan meskipun mereka
menyatakan kesanggupannya untuk menungguku, bahkan saat mereka bersedia mengkhitbahku
sebagai jaminannya, bahkan meskipun aku tahu mereka sangat menghormati wanita,
bahkan sangat menjaga akhlaknya, tetap aku membisu. Ya, gengsiku terlalu tinggi
untuk juga kuungkapkan perasaanku. Namun, aku tak pernah menolak. Hanya diam.
Diam yang mungkin memang menimbulkan tanda tanya. Diam yang memang sulit
ditebak antara iya ataukah tidak. Diamku mungkin membuat mereka sebel, jengkel,
merasa digantung, di PHP, atau apa. Tetapi, satu hal yang sangat kuyakini di
balik diamku, “Sediam apapun jika jodoh tak kan kemana”.
Memang, diam itu ambigu. Mungkin
mereka akan merasa ditolak karena telah didiamkan. Hampir semua dari mereka
sekarang telah menikah, baik itu dengan wanita lain pilihannya sendiri, atau
dipilihkan. Menyesal menutup-nutupi perasaan itu? Tidak, karena aku masih yakin
bukan diam tidaknya yang menentukan berjodoh. Meskipun kuungkapkan perasaanku,
jika memang tak berjodoh, sekuat apapun usaha, ya tetap tak bisa dipaksakan.
Kalau sedih, aku akui sangat-sangat sedih tak berjodoh dengan lelaki yang
kuharap. Tetapi, hanya sedih, bukan malu. Andaikan kuungkapkan perasaanku,
betapa aku juga sangat malu, karena ketahuan menyukainya tetapi endingnya tak
bersamanya. Betapa aku sangat malu menghadiri pernikahannya atau hanya sekedar
mengucapkan selamat. Apakah aku tipe-tipe wanita gengsian? Entahlah bagaimana
kalian menyebutku.
Tetapi sebenarnya, bukan gengsi yang
menjadi alasan utamaku untuk tetap bungkam diam tak menjawab. Hanya “belum
saatnya”. Ya, belum saatnya aku ungkapkan perasaanku. Jika aku paksa
mengungkapkan perasaanku, iya kalo kuat jaga iman? Kalo tidak? Nyatanya, aku
tak sekuat itu.
Cukup sekali, pada seorang saja, aku
lakukan kesalahan itu. Bukan fatal lagi akibatnya. Resah, gelisah, galau akut
tingkat dewa, hampir-hampir memenuhi diri tiap waktu. Nyatanya, aku yang memang
masih sangat lemah ini, kalah dengan nafsu. Aku hampir-hampir kehilangan akal
jernihku dan rasa malu. Kalau mengingatnya sesak hati ini, merasa jijik pada
diri sendiri, karena berani-beraninya merayu lelaki itu, tak tahu malu
bermanja-manja padanya. Haisshhh, memalukan. Cukup tak usah dibahas lagi hal
itu.
Tapi, belum cukup disitu penyesalan
akibat pernah kuungkapkan perasaan itu. Saat aku ingin “berhenti” berdekatan
dengannya atau sekedar berhenti memikirkannya sangat-sangat sulit. Bahkan hanya
untuk diam seperti yang kulakukan sebelum-sebelumnya bukan main sulitnya.
Antara tega atau tidak memikirkannya yang mungkin akan galau dengan diamku atau
bahkan menganggapku mempermainkannya. Belum rasa takut, yang entah darimana
datangnya. Belum lagi, jika tiba-tiba aku tak kuat untuk diam saat keinginan
untuk kembali dekat dengannya mulai mencandu.
Beda cerita jika dari awal aku tak
terang-terangan mengungkapkan bahwa aku menyukainya, mengharapkannya, tentu tak
akan sesusah ini untuk diam, tentu aku lebih bisa mengendalikan diri saat
bertemu dengannya. Tentu rasa candu untuk terus dekat tak akan sebesar ini.
Tentu aku bisa bebas bersikap diam atau cuek tanpa mempedulikan bagaimana
pemikirannya terhadapku karena memang dia tak pernah tahu bagaimana perasaanku.
Tentu aku tak akan sesering ini merasa bersal karena telah plin-plan dalam
bersikap padanya.
Ah, tetapi kesalahan itu untuk
diperbaiki, tak melulu disesali saja. Memang susah, tapi ini adalah resiko yang
harus aku lakukan karena kesalahan itu. Bagaimanapun susahnya, bagaimanapun
gelisahnya, tetapi aku harus mampu menetralkan “sikap”ku padanya, layaknya aku
bersikap pada teman-temanku. Tanpa peduli akibat dari usaha penetralan sikapku
itu, akankah berdampak penetralan perasaanku padanya yang akhirnya melunturkan
perasaan ini, ataukah malah berdampak dia yang netral padaku atau apa, atau aku
akan tetap menyukainya dalam diam? MAAF, aku tak begitu peduli bagaimana
selanjutnya perasaanku padanya.
Satu yang kuyakini, jika memang berjodoh,
senetral apapun aku bersikap, secuek apapun, bahkan meski dia mulai netral
padaku, kalau jodoh pasti ketemu, kalau jodoh apa-apa yang telah netral tadi
akan kembali dibangun dengan kekuatan cinta yang suci. Harapan tentu ada. Yang
perlu dilakukan adalah berdoa dan berdoa, meminta ketenangan hati untukku dan
untuknya, terus memperbaiki diri. Bukan saling menjaga hati dengan selalu
berdekat-dekat, bukan, tetapi menjaga hati dengan berserah diri pada-Nya.
Karena Dialah yang akan menjawab siapakah jodohku, siapakah jodohnya, ataukah
aku berjodoh dengannya.
Sekali lagi, jika memang belum
saatnya, menyukai seseorang dengan diam-diam adalah yang terbaik. Tak hanya
bebas bersikap, tapi juga sangat seru sensasinya penasaran bagaimana
perasaannya padaku. Juga, lebih “aman” dalam menjaga hati dan akhlak. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar