Jumat, 09 Agustus 2013

Diam bukan sebab tak berjodoh

Kata orang kau akan menyesal jika tidak pernah mengungkapkan perasaanmu pada si dia. Ah tapi aku tak peduli, karena seasik-asiknya menyukai seseorang memang dengan diam-diam. Tidak percayakah? Ya terserah, karena memang opini orang berbeda-beda. Yuk simak opiniku, J
Berkali-kali aku menyukai seseorang, dan berkali-kali itu kusembunyikan perasaanku. Anehnya orang-orang yang kusukai itu lebih tua dariku, sekitar 6 tahunan ke atas, kecuali 1 yang lebih muda dariku beberapa bulan, hehe :D
Kusadari, aku memang tipe-tipe wanita yang mudah menyukai lelaki, tetapi sebenarnya aku tidak mudah melupakan. Aku akan mulai bisa melupakan saat aku menemukan seseorang lainnya yang kusuka.

Pada orang-orang yang lebih tua dariku itu aku selalu sembunyikan perasaanku. Meskipun mereka menunjukkan dan mengungkapkan rasanya padaku, tetap aku hanya terdiam. Bahkan meskipun mereka menyatakan kesanggupannya untuk menungguku, bahkan saat mereka bersedia mengkhitbahku sebagai jaminannya, bahkan meskipun aku tahu mereka sangat menghormati wanita, bahkan sangat menjaga akhlaknya, tetap aku membisu. Ya, gengsiku terlalu tinggi untuk juga kuungkapkan perasaanku. Namun, aku tak pernah menolak. Hanya diam. Diam yang mungkin memang menimbulkan tanda tanya. Diam yang memang sulit ditebak antara iya ataukah tidak. Diamku mungkin membuat mereka sebel, jengkel, merasa digantung, di PHP, atau apa. Tetapi, satu hal yang sangat kuyakini di balik diamku, “Sediam apapun jika jodoh tak kan kemana”.
Memang, diam itu ambigu. Mungkin mereka akan merasa ditolak karena telah didiamkan. Hampir semua dari mereka sekarang telah menikah, baik itu dengan wanita lain pilihannya sendiri, atau dipilihkan. Menyesal menutup-nutupi perasaan itu? Tidak, karena aku masih yakin bukan diam tidaknya yang menentukan berjodoh. Meskipun kuungkapkan perasaanku, jika memang tak berjodoh, sekuat apapun usaha, ya tetap tak bisa dipaksakan. Kalau sedih, aku akui sangat-sangat sedih tak berjodoh dengan lelaki yang kuharap. Tetapi, hanya sedih, bukan malu. Andaikan kuungkapkan perasaanku, betapa aku juga sangat malu, karena ketahuan menyukainya tetapi endingnya tak bersamanya. Betapa aku sangat malu menghadiri pernikahannya atau hanya sekedar mengucapkan selamat. Apakah aku tipe-tipe wanita gengsian? Entahlah bagaimana kalian menyebutku.
Tetapi sebenarnya, bukan gengsi yang menjadi alasan utamaku untuk tetap bungkam diam tak menjawab. Hanya “belum saatnya”. Ya, belum saatnya aku ungkapkan perasaanku. Jika aku paksa mengungkapkan perasaanku, iya kalo kuat jaga iman? Kalo tidak? Nyatanya, aku tak sekuat itu.
Cukup sekali, pada seorang saja, aku lakukan kesalahan itu. Bukan fatal lagi akibatnya. Resah, gelisah, galau akut tingkat dewa, hampir-hampir memenuhi diri tiap waktu. Nyatanya, aku yang memang masih sangat lemah ini, kalah dengan nafsu. Aku hampir-hampir kehilangan akal jernihku dan rasa malu. Kalau mengingatnya sesak hati ini, merasa jijik pada diri sendiri, karena berani-beraninya merayu lelaki itu, tak tahu malu bermanja-manja padanya. Haisshhh, memalukan. Cukup tak usah dibahas lagi hal itu.
Tapi, belum cukup disitu penyesalan akibat pernah kuungkapkan perasaan itu. Saat aku ingin “berhenti” berdekatan dengannya atau sekedar berhenti memikirkannya sangat-sangat sulit. Bahkan hanya untuk diam seperti yang kulakukan sebelum-sebelumnya bukan main sulitnya. Antara tega atau tidak memikirkannya yang mungkin akan galau dengan diamku atau bahkan menganggapku mempermainkannya. Belum rasa takut, yang entah darimana datangnya. Belum lagi, jika tiba-tiba aku tak kuat untuk diam saat keinginan untuk kembali dekat dengannya mulai mencandu.
Beda cerita jika dari awal aku tak terang-terangan mengungkapkan bahwa aku menyukainya, mengharapkannya, tentu tak akan sesusah ini untuk diam, tentu aku lebih bisa mengendalikan diri saat bertemu dengannya. Tentu rasa candu untuk terus dekat tak akan sebesar ini. Tentu aku bisa bebas bersikap diam atau cuek tanpa mempedulikan bagaimana pemikirannya terhadapku karena memang dia tak pernah tahu bagaimana perasaanku. Tentu aku tak akan sesering ini merasa bersal karena telah plin-plan dalam bersikap padanya.
Ah, tetapi kesalahan itu untuk diperbaiki, tak melulu disesali saja. Memang susah, tapi ini adalah resiko yang harus aku lakukan karena kesalahan itu. Bagaimanapun susahnya, bagaimanapun gelisahnya, tetapi aku harus mampu menetralkan “sikap”ku padanya, layaknya aku bersikap pada teman-temanku. Tanpa peduli akibat dari usaha penetralan sikapku itu, akankah berdampak penetralan perasaanku padanya yang akhirnya melunturkan perasaan ini, ataukah malah berdampak dia yang netral padaku atau apa, atau aku akan tetap menyukainya dalam diam? MAAF, aku tak begitu peduli bagaimana selanjutnya perasaanku padanya.
Satu yang kuyakini, jika memang berjodoh, senetral apapun aku bersikap, secuek apapun, bahkan meski dia mulai netral padaku, kalau jodoh pasti ketemu, kalau jodoh apa-apa yang telah netral tadi akan kembali dibangun dengan kekuatan cinta yang suci. Harapan tentu ada. Yang perlu dilakukan adalah berdoa dan berdoa, meminta ketenangan hati untukku dan untuknya, terus memperbaiki diri. Bukan saling menjaga hati dengan selalu berdekat-dekat, bukan, tetapi menjaga hati dengan berserah diri pada-Nya. Karena Dialah yang akan menjawab siapakah jodohku, siapakah jodohnya, ataukah aku berjodoh dengannya.
Sekali lagi, jika memang belum saatnya, menyukai seseorang dengan diam-diam adalah yang terbaik. Tak hanya bebas bersikap, tapi juga sangat seru sensasinya penasaran bagaimana perasaannya padaku. Juga, lebih “aman” dalam menjaga hati dan akhlak. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar