Terik mentari
begitu menyengat. Aku mempercepat langkah, segera menaiki bus patas
Surabaya-Malang. Kulihat seisi bus, sudah lumayan penuh. Jadi aku tak perlu
menunggu lama. Aku memilih duduk di sisi jendela, tempat favoritku. Aku bisa
bersandar, bisa bebas melihat jalan-jalan disampingku tanpa terhalang penumpang
lain. Saat kupandang keluar Mrs.
Eliza dan kedua anaknya masih tetap berdiri di luar, melambaikan tangannya,
tersenyum padaku.
“Reach your dream…”1,
teriaknya yang terdengar samar-samar ditengah kebisingan penumpang dan beberapa
penjual yang bersorak menyuarakan dagangannya. Aku hanya mengangguk dan
membalas lambaian tangannya seraya tersenyum.
Berat hatiku berpisah dengan Mrs. Eliza, majikanku yang sangat baik. Aku sudah dianggapnya sebagai keluarga. Bahkan Mrs. Eliza mau mengantarkanku pulang dari Bogor, rumahnya, meskipun hanya sampai di Surabaya. Aku mengenalnya dari Bu Tari, teman almarhumah ibuku. Waktu itu aku sangat butuh sekali uang, untuk memenuhi janjiku pada bapak. Aku meminta Bu Tari mencarikanku pekerjaan. Kebetulan Mrs. Eliza, sahabat Bu Tari, yang baru datang dari Australia sedang mencari pembantu. Akupun langsung diterima kerja. Apalagi aku bisa berbicara Bahasa Inggris dengan lancar meskipun terkadang grammar2nya berantakan. Dirumahnya yang besar hanya ada satu pembantu, semua pekerjaan aku yang melakukan, memasak, menyuci, membersihkan rumah, termasuk mengasuh kedua anaknya. Disana aku benar-benar bekerja keras. Tanganku tak lagi halus seperti dulu yang hanya sering kugunakan untuk menulis, belajar, dan sesekali membantu bapak ke sawah. Sebenarnya aku betah bekerja padanya. Tapi setelah dua tahun, Mrs. Eliza menyuruhku pulang. Bukan karena pekerjaanku yang tak baik, tapi dia menyayangkan bila aku tak melanjutkan sekolah lagi. Mrs. Eliza selalu meyakinkanku kalau aku masih bisa meraih cita-citaku yang sempat tertunda. Impianku menjadi ilmuwan yang dulu pernah terkubur mulai kubangkitkan lagi.
***
Bus mulai melaju. Kulihat keluar, Mrs. Eliza sudah pergi. Mataku kemudian mengamati bus ini. Tepat di atas kepalaku, kulihat sebuah lampu yang padam. Aku memandangi lampu itu. Aku jadi teringat salah satu impianku dulu, “ingin semalam saja tidur dibawah temaramnya cahaya lampu”. Betapa dulu aku sangat memimpikan hal itu. Aku masih ingat betul, waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia, aku masih kelas VIII, Bu Wahyu, guruku memberi tugas menceritakan impian kita. Aneh mungkin impianku. Terlalu rendah, tak berharga, tapi tidak menurutku. Aku tak peduli bagaimana teman-temanku menertawakan impianku, karena kupikir mimpi itu bak udara, gratis, siapapun bebas menghirupnya, tak ada batas yang membatasi jumlah dan jauh impian kita. Aku percaya pasti akan selalu terbuka jalan menggapai impian. Impianku yang kelihatan remeh itu merupakan satu dari banyak impian besarku. Betapa tidak, waktu itu rumahku belum terjangkau listrik. Selain karena rumahku yang jauh di pelosok, orangtuaku memang tak punya uang untuk memasang listrik. Bayangkan tahun 2008, saat semuanya serba modern, malam-malamku masih ditemani gelap yang mencekam, hanya ada dua lampu “cemplok”3. Belajarpun tak senyaman teman-temanku. Aku harus memaksa mataku membaca di remang-remangnya cahaya lampu. Namun aku bersyukur mataku hingga kini masih normal, bisa melihat dengan jelas. Apalagi saat ini impianku itu telah terwujud, ya sejak aku bekerja di Bogor, aku bisa sepuasnya menyalakan lampu, kapan pun. Sebenarnya kalau ingat mimpi itu konyol juga sih. Aku tersenyum sendirian.
Kupandang jalan-jalan diluar. Siang hari seperti ini lalu lintas sangat padat.
Kulirik penumpang-penumpang yang lain, Ada yang tertidur pulas, ada yang sibuk
memainkan handphone, ada juga yang hanya diam, melamun, seperti aku.
Kusandarkan kepalaku dikursi bus. Kupejamkan mata, namun tak kunjung tertidur.
Aku kembali teringat rumahku di desa. Di rumah aku tak bisa bersandar senyaman
ini. Dinding rumahku bukan dari bata, tapi dari gedek4 yang
sudah tua, berpuluhan tahun tak pernah ganti. Setiap kali aku bersandar, bapak
selalu memarahiku, melarangku bersandar di gedek yang sudah reot itu,
takut roboh. Waktu itu aku juga punya impian membangun rumah dengan tembok yang
kuat, biar bila ada angin kencang rumahku tak roboh.
Tapi, betapapun buruk rumahku, aku sangat merindukannya. Rumahku, bagaimana ya
kabarnya? Masihkah sama seperti dulu adanya? Ataukah sudah direnovasi oleh
bapak.
Seketika
wajah bapak datang membayangiku. Lagi-lagi aku menarik nafas panjang, mengingat
bagaimana kejamnya dunia mengubah sikap bapak. Dulu waktu aku kecil bapak
begitu sayang padaku. Meskipun tak pernah memanjakanku tetapi banyak hal yang
diajarkannya padaku. Bahkan dia yang pertama kali mengajariku bermimpi. Namun
sayang, seiring berjalannya waktu, semakin banyak ujian menimpa, terutama
himpitan ekonomi, sikap bapak menjadi kasar, arogan, tak lagi sabar, tak lagi mendukung cita-citaku,
pemikirannya menjadi pragmatis, kolot, suka marah-marah, dan entah apalagi,
menandakan keputus asaan. Ah, sungguh aku merasakan sendiri bagaimana
kemiskinan sangat berpengaruh pada kondisi psikologis seseorang. Namun,
meskipun begitu tak pernah tersimpan dendam dalam hati, tak ada luka yang
membekas lara hingga saat ini.
Bapak, bapak,
aku rindu. Bagimana ya kabar bapak? Dua tahun sudah aku tak mendengar kabar
darinya. Aku tak sabar ingin segera sampai, perjalanan terasa sangat panjang.
Hatiku menjadi tak tenang, gelisah, akibat rindu yang tak tertahankan lagi.
Aku
merindukan bapak. Ingin segera kucium tangannya. Bersimpuh dihadapannya. Aku
merindukannya, biarpun tak jarang bapak menyakitiku, melukai perasaanku. Aku
merindukannya, meskipun bapak yang membuatku terpaksa tertunda untuk
melanjutkan sekolah, meskipun bapak pula yang sempat akan menjualku untuk
membayar hutangnya. Ingatanku kembali berjalan zigzag dan jumping.
Episode demi episode mulai berkelebatan di benakku. Kisah yang sangat pilu itu
masih sangat tergambar jelas. Tanpa kuminta, memori itu terputar begitu saja.
***
Aku ingat betul dua tahun yang lalu, waktu itu aku baru pulang dari acara
wisuda SMP Nusa Bangsa. Meskipun aku menjadi lulusan terbaik se-Jawa Timur, aku
tak bisa bangga, bahkan diliputi penyesalan yang dalam. Banyak hal yang
membuatku sedih. Tak ada satupun keluarga yang menghadiri wisudaku. Ibu yang
sebelumnya pernah berjanji akan pulang ke tanah air 6 bulan sebelumnya,
mengingkari janjinya. Dia tak datang, bahkan meninggalkanku selamanya, Tuhan
telah mengambilnya lebih dulu melalui kecelakaan pesawat saat menuju tanah air.
Sementara bapak, boro-boro mau hadir, urusan sekolahku saja dia tak terlalu
peduli, bahkan sekedar menanyakan nilai saja pun tak pernah, Terakhir yang
membuatku paling sedih, bapak tak menyetujuiku melanjutkan ke jenjang SMA,
meskipun aku mendapat beasiswa tiga tahun penuh. Coba bayangkan, bagaimana bila
ada di posisiku.
Waktu itu ketika aku pulang dari acara wisuda, betapa kagetnya aku, di meja
makan terhidang berbagai makanan mewah, enak-enak pula tampaknya. Apakah bapak
sengaja memberi kejutan untukku? Masak sih? Tak biasa-biasanya bapak baik
seperti itu padaku. Kulihat kedua adikku, Lina dan Ayu makan dengan lahapnya.
“Mbak Intan, ayo cepat gabung sini, kita makan bareng,
enak banget nih.”, kata Lina
“Iya, ya, wah kebetulan nih, mbak juga
laper banget, tapi bapak mana? Bapak sudah makan belum?”
“Katanya sih tadi udah, sama bapak Ayu suruh ajak mbak Intan
makan”
Langsung kucomot piring di meja. Sambil mengambil nasi,
kutanya adikku,
“Memangnya tadi bapak masak sendirian?”
“Hahaha,.. Mbak Intan.. Mbak Intan..
memangnya sejak kapan bapak jago masak seenak ini. Ini tadi dikasi Pak Taka,
katanya spesial buat ngrayain wisudanya mbak Intan”
Deg! Apa? Segera kutaruh
piringku. Nafsu makanku seketika hilang, tergantikan mual. Oh, hari ini
ditambah lagi satu kesedihan. Aku terduduk lemas. Mataku sudah berkaca-kaca.
Ayu dan Lina hanya memandangiku. Entah apa mereka mengerti perasaanku atau
tidak. Lama aku terdiam. Sampai tak kusadari bapak sudah duduk di depanku.
“Gimana nduk5 wisudanya? Bapak tadi sebenarnya mau ke sekolahmu,
tapi tadi tiba-tiba Pak Taka datang kesini, mau ditinggal gak enak. Dia yang
membawa makanan ini, katanya khusus untuk kamu. Dia juga minta maaf tak bisa
hadir di wisudamu. Dia tadi juga menyampaikan pesannya kalau akad nikah kalian
ditunda enam bulan lagi. Pak Taka masih harus menyelesaikan tugasnya di
Kalimantan”
Apa? Betapa kagetnya
aku. Bagai disambar petir aku mendengarnya Aku hanya bisa menjerit dalam hati.
Bisa kurasakan aliran darah yang naik ke ubun-ubun. Seenaknya saja tiba-tiba
menunda akad nikah, memang kapan aku menerima pinangannya? Apa jangan-jangan
ini ulah bapak? Apa bapak yang langsung mengiyakan saja apa kata si tua hidung
belang itu. Kenapa bapak tak meminta persetujuanku dulu. Setega itukah bapak
membiarkanku menikah dengan lelaki yang seumuran dengannya? Namun kepada siapa
aku bisa menggugat? Oh, andaikan ibu masih ada…
“Wes lah nduk, manuto!6 Pak Taka itu
orang baik. Dia dulu yang membantu menyekolahkanmu, dia banyak membantu
keluarga kita. Mungkin tanpa campur tangan Pak Taka kita akan semakin
kekurangan, kalau bapak sakit, atau kamu dan adik-adikmu, Pak Taka pula yang
membantu. Perbedaan umur tak menjadi alasan. Ibumu dulu nikah sama bapak juga
seusia kamu.” Bapak seolah tahu apa yang kupikirkan.
Perutku semakin merasa mual, mendengar lelaki brengsek itu dipuji-puji bapakku.
Baik darimana coba? Suka memberi pinjaman? Ah, dia itu lintah darat yang kejam.
Luarnya saja yang terlihat berwibawa, tapi dalamnya? Sok-sok membantu
keluargaku, sok mendukungku sekolah, tapi ujung-ujungnya dia menganggapnya
semua itu pinjaman berbunga, semakin lama melunasinya, semakin banyak pula
bunga yang harus dibayarkan. Dulu saat aku hendak masuk SMP, Pak taka memang
yang membiayaiku. Ibuku yang menyadari bahwa pak Taka pasti menganggapnya
sebagai hutang memutuskan bekerja ke luar negeri, sebagai TKW. Kata ibu, ibu
akan melakukan apapun demi mewujudkan cita-cita anaknya. Sangat kontras dengan
bapak, yang masih saja kolot! Oh, andaikan ibu masih ada, pasti hutang itu
lunas sudah. Tuhan, kenapa kau ambil ibuku?
Namun, aku tak boleh menggugat Tuhan. Aku menarik nafas, menahan emosi yang
hendak meletup-letup ini. Dadaku sesak, tak berani kusampaikan gugatan-gugatan
itu pada bapak. Selama ini tak pernah sekalipun aku melawannya.
“Bapak capek hidup dililit
hutang, hidup susah terus. Lihat pula Lina dan Ayu, kamu tak kasihan pada
mereka? Setiap hari terpaksa makan sekali, itupun hanya dengan ketela. Lha
kalau kamu menikah sama Pak Taka, alangkah senang adik-adikmu setiap hari makan
enak seperti ini. Hutang kita dianggap lunas. Sekolah adik-adikmu juga
ditanggung. Kamu gak ingin tinggal di rumah yang bagus, makan enak? Hidupmu
juga akan makmur, tentram, banyak harta”.
Pemikiran
kolot! Materialistis! Berkali-kali aku mendengar bujuk rayu bapak agar aku mau
menikah dengan Pak Taka. Tapi entah mengapa kali ini aku benar-benar sakit
hati. Tak tahan aku. Aku bukan boneka yang bisa diperjualbelikan semudah itu.
Aku bukan barang yang semudah itu digadaikan hanya untuk melunasi hutang.
Sungguh rendah sekali harga diriku bila aku mau menikah dengan Pak Taka yang
sudah dua kali kawin cerai. Di zaman modern ini kenapa masih saja ada Siti
Nurbaya? Kenapa masih saja ada kawin paksa. Oh nasibku benar-benar seperti Siti
Nurbaya. Tapi aku Intan bukan Siti Nurbaya. Aku masih tak mau menyerah dalam
menggapai cita-citaku. Namun lagi-lagi, suaraku hanya tersekat di tenggorokan,
lidahku kelu, tak sanggup mengatakan semua gugatan itu.
“Pak, Intan masih mau sekolah”,
hanya itu yang sanggup kuucap. Lirih, suaraku parau menahan tangis.
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi?
Kamu hanya gadis desa, anak kampung, gak pantes sekolah tinggi, toh kamu anak
perempuan, bisa apa? Nanti kamu juga hanya akan macak, manak, masak.7” Suara bapak mulai meninggi.
Semakin sakit hatiku
mendengarnya.
“Pak, sekarang sudah zaman
modern. Meskipun kita orang pelosok, tapi kita jangan terus-terusan primitif.
Sekarang sudah jamannya emansipasi wanita. Derajat lelaki dan perempuan sama.
Bukankah dulu bapak sendiri yang mengajariku bercita-cita? Intan juga punya hak
menempuh pendidikan yang tinggi. Intan bukan Siti Nurbaya, Pak. Intan punya
cita-cita dan cinta yang tak bisa dipaksakan.” Akhirnya keluar juga kata-kata
itu. Aku tak tahu darimana kudapatkan kekuatan mengatakan ini. Aku sendiri tak
sadar bagaimana kata-kata itu bisa kuucapkan. Kulihat perubahan air muka bapak.
Sepertinya dia marah.
“Jadi kamu sudah berani
menantang bapak?”
“Bapak yang tega padaku, bapak
menjadikanku boneka yang bisa dipermainkan semudah itu, yang bisa digadaikan
dengan harta. Pak kekayaan itu bukan sumber bahagia.” Suaraku tak kalah tinggi
dengan suara bapak. Entah angin darimana yang membuatku seberani ini.
Plak! Tiba-tiba tangan kasar
bapak menampar pipiku.
“Kurang ajar kamu. Ini hasilnya
kamu sekolah? Bisanya melawan orangtua? Kamu taruh mana adabmu hah?” Bentak
bapak. Suaranya yang menggelegar membuatku gemetaran. Kutahan airmata yang
hendak tumpah. Kukumpulkan lagi segenap keberanian. Kutarik nafas kuat-kuat.
“Apa gunanya kamu sekolah?
Dasar tak tahu diri”, bapak benar-benar emosi
Suasana hening, tegang,
airmataku akhirnya tumpah. Aku tak terima dengan perkataan bapak. Aku tak mau
kawin paksa. Aku masih 15 tahun. Masih panjang waktu remajaku. Lama kami
terdiam dalam bisu.
“Baiklah pak, maaf kalau Intan
lancang, tapi lebih baik Intan pergi saja daripada Intan hidup dalam
ketertekanan. Intan nggak takut mati. Intan akan buktikan kalau Intan akan
sukses, dan akan Intan bayarkan hutang keluarga kita pada Pak Taka. Intan
janji. Nyawa Intan taruhannya”. Aku tak tahan lagi dengan sikap bapak yang
keterlaluan keras. Kukemasi barang-barangku secukupnya saja. Kuraih dan kucium
tangan bapak, tetapi bapak malah membuang muka dan menyentakkan tanganku.
Kupeluk Lina dan Ayu. Mereka menangis, entah mereka mengerti atau tidak apa
yang terjadi. Impianku waktu itu aku harus bisa melunasi hutang keluargaku pada
Pak Taka.
***
Aku menangis
bila mengingatnya. Penumpang bus di sebelah memandangku. Mungkin mereka menganggapku
gila, karena tiba-tiba terisak, tersenyum sendirian, ya memang seperti orang
tak waras. Tapi what a hell…
Sebenarnya
bapak tak bisa disalahkan begitu saja. Bertahun-tahun bapak hidup dalam
ketertekanan, kemiskinan, kesusahan. Wajar bila dia ingin merasakan
kebahagiaan, yang menurutnya bahagia identik dengan kekayaan. Ah, aku menyesal
mengapa dulu aku melawannya, bertengkar dengan satu-satunya orangtua yang masih
kumiliki. Mungkin aku telah durhaka. Apalagi selama ini aku tak pernah memberi kabar.
Bahkan aku mengirim uang ke bapak lewat Sarah, teman SMPku yang rumahnya agak
jauh. Selain karena rumahku yang terpencil, sulit dicari oleh Pak pos, aku juga
tak ingin bapak tahu alamat tempat aku bekerja. Aku takut bapak masih marah
padaku dan juga untuk menghindari kejahatan Pak Taka, pastinya dia marah aku
membatalkan pernikahan secara sepihak. Aku selalu berdoa semoga Pak Taka tidak
membalas dendam pada bapak.
***
“Terminal.. terminal…” teriak kondektur mengagetkanku, membuyarkan lamunanku.
Akhirnya sampai juga. Kulirik arlojiku, sudah jam 15.25 WIB.Para penumpang
bergegas keluar dari bus. Entah mengapa aku merasa gugup, berbagai perasaan
bercampur aduk, senang, tak sabar, takut, khawatir, entah apa lagi. Kurasakan
tanganku yang gemetar. Ku edarkan pandangan ke sekeliling. Aku sudah
memberitahu berita kepulanganku ke rumah. Sarah pernah bercerita saat dia
mengantar uang kirimanku ke bapak, bapak mengatakan dia sangat merindukanku.
Namun, entah aku tak bisa percaya begitu saja. Aku takut bapak masih marah.
Karena itu, di surat terakhirku, sengaja aku juga meminta bapak berkenan
menjemputku di terminal ini sebagai tanda kalau bapak memang telah memaafkanku.
Sambil
menenteng koper besar, berisi oleh-oleh, aku berjalan menyusuri terminal. Dari
ujung ke ujung, dari barat ke timur, menengok toko demi toko yang ada,
barangkali aku melihat bapak. Tapi ah, nihil. Tak kulihat bapak di terminal
ini. Apakah bapak masih marah padaku? Ah, bapak, bagaimanapun dulu engkau tega
padaku, tapi aku tetap menyayangimu, merindukanmu.
Ku usap keringat yang mengalir deras di dahiku. Aku lelah, putus asa. Harapan
kalau bapak akan menjemputku di terminal pupus sudah. Aku kembali berjalan
hingga sampai pada jalan besar. Aku tak segera naik angkot untuk pulang ke
rumah. Aku semakin merasa was-was saja. Kalau bapak tak menjemputku disini, itu
pertanda bapak tak memaafkanku. Aku kecewa berat. Entah mengapa aku merasa
begitu marah. Perjuangan berat dan banyak pengorbanan yang telah kulakukan
belum juga terbalas kebaikan. Aku berjalan sambil tertunduk lesu.
“Mbak Intan… Mbak Intan…”
Aku seperti
mendengar namaku disebut-sebut. Siapa ya. Kucari-cari sumber suara itu,
darimana arahnya ya. Ataukah ini hanya ilusi karena terlalu berharap bapak,
Lina, dan Ayu menjemputku.
“Mbak Intan… Mbak… Lina disini mbak,
di seberang jalan… Mbak Intan…” teriakan itu semakin kencang.
Aku segera
menoleh. Ya allah, itu Lina, Ayu, dan bapak. Antara percaya dan tidak dengan
penglihatanku. Kukucek kedua mataku, memastikan ini bukan khayalan. Ya, ini
benar-benar kenyataan. Hatiku sungguh senang tak terkirakan. Mereka benar-benar
menjemputku di terminal, itu artinya mereka memafkanku. Bapak melambaikan
tangannya padaku, sambil tersenyum. Oh, ini impianku sejak tinggal di Bogor,
bertemu kembali dengan bapak yang menyambut senang kedatanganku. Terimakasih
Tuhan. Betapa sayangnya Engkau padaku. Tuhan telah memeluk impian-impianku.
Hampir semua yang pernah kuimpikan kini telah terwujud.
Aku tak
sempat berkata-kata lagi. Aku mempercepat langkah, menerobos kerumunan orang,
ingin segera bersimpuh di kaki bapak. Aku ingin mengatakan padanya aku berhasil
memenuhi janjiku.
“Bapak….” Teriakku di tengah
ramainya lalu lintas.
“Intan, bapak sayang sama kamu,
nduk. Maafkan bapak ya...” Bapak juga berteriak, tak kalah kerasnya denganku.
Senyum mengembang dari bibirku. Airmata mengalir deras. Sungguh aku merasa
lega.
Begitu
bahagianya, hingga aku benar-benar lupa akan lalu lalangnya kendaraan. Satu dipikiranku,
segera memeluk bapak dan bersimpuh dikakinya. Tak sabar, aku berlari, tanpa
kuhiraukan lampu hijau yang menyala.
“Mbak Intan, awas! Ada truk…”
teriak Lina.
“Tiiiiiiiiinn…”
Refleks aku
menoleh ke kanan. Truk itu tinggal beberapa centimeter dari badanku. Koper dan
tas ditanganku terlepas, mataku menatap lurus truk itu. Aku terlalu kaget. Aku
hanya berdiri mematung, bergeming.
Tiba-tiba…
Bruaaaaaaakkk!
Aku merasa
semuanya berjalan lambat, tubuhku seolah melayang-layang diudara. Samar-samar,
mataku masih sempat melihat bapak dan kedua adikku yang berlari menghampiriku.
Telingaku masih sempat mendengar jeritan orang-orang di pinggir jalan. Masih
bisa kurasakan saat bapak menggendong tubuhku, namun ku tak lagi bisa
melihatnya. Mataku terasa sangat berat.
“Intan… Intan… jangan tinggalkan
bapak, nduk. Bapak sayang sama kamu nduk, maafkan bapak yang dulu sering
menyakitimu, bapak menyesal, nduk buka matamu, …” suara bapak terdengar pelan,
seolah semakin jauh.
“Iya, Mbak, bapak sekarang baik
banget, Ayu sering diantar ke sekolah, bapak juga yang mengajariku meraih
cita-cita, bapak yang selalu….”
“Mbak Intan, bangun, mbak belum
melihat rumah baru kita, belum lihat Lina jadi anak yang pinter. Mbak, banyak
yang ingin…” entah apa lagi yang dikatakannya.
Jeritan dan
teriakan orang-orang pun perlahan mulai menghilang. Tubuhku terasa semakin
ringan. Semuanya menjadi semakin gelap. Ingin aku berkata pada bapak,
“Aku telah memenuhi janjiku, aku
berhasil meraih impianku…”
Namun kalimat
itu tak sanggup ku katakan. Bahkan aku tak sanggup mendengar suara-suara
keramaian lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi. Namun aku merasakan kebahagiaan
yang tak terperikan sungguh.
Aku merasakan
kesejukan menyelimuti tubuhku. Aku tak lagi berada di kegelapan. Aku bisa
kembali melihat cahaya terang. Bahkan indah sekali cahaya ini. Di kejauhan
kulihat ibu yang semakin mendekat ke arahku, mengulurkan tangannya menyambutku.
Oh, hari ini
aku mendapat banyak sekali kebahagiaan, bertemu bapak, kedua adikku, dan
sekarang ibuku yang menjemputku dan akan menemaniku selamanya. Ibu aku juga
merindukanmu…
***
Keterangan:
- Raih mimpimu
- Struktur bahasa
- Sejenis lampu tradisional yang bahan bakarnya dari minyak tanah
- Rajutan dari bambu
- Panggilan jawa untuk anak perempuan
- Sudahlah, menurutlah, (bahasa jawa)
- Berhias, melahirkan, memasak
- Tak peduli (idiom dalam Bahasa Inggris)
Karya : Lina Kamaliyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar