Rabu, 10 Oktober 2012

Tuhan Telah Memeluk Impianku



Terik mentari begitu menyengat. Aku mempercepat langkah, segera menaiki bus patas Surabaya-Malang. Kulihat seisi bus, sudah lumayan penuh. Jadi aku tak perlu menunggu lama. Aku memilih duduk di sisi jendela, tempat favoritku. Aku bisa bersandar, bisa bebas melihat jalan-jalan disampingku tanpa terhalang penumpang lain. Saat kupandang keluar Mrs. Eliza dan kedua anaknya masih tetap berdiri di luar, melambaikan tangannya, tersenyum padaku.
            “Reach your dream…”1, teriaknya yang terdengar samar-samar ditengah kebisingan penumpang dan beberapa penjual yang bersorak menyuarakan dagangannya. Aku hanya mengangguk dan membalas lambaian tangannya seraya tersenyum.
           
Berat hatiku berpisah dengan Mrs. Eliza, majikanku yang sangat baik. Aku sudah dianggapnya sebagai keluarga. Bahkan Mrs. Eliza mau mengantarkanku pulang dari Bogor, rumahnya, meskipun hanya sampai di Surabaya. Aku mengenalnya dari Bu Tari, teman almarhumah ibuku. Waktu itu aku sangat butuh sekali uang, untuk memenuhi janjiku pada bapak. Aku meminta Bu Tari mencarikanku pekerjaan. Kebetulan Mrs. Eliza, sahabat Bu Tari, yang baru datang dari Australia sedang mencari pembantu. Akupun langsung diterima kerja. Apalagi aku bisa berbicara Bahasa Inggris dengan lancar meskipun terkadang grammar2nya berantakan. Dirumahnya yang besar hanya ada satu pembantu, semua pekerjaan aku yang melakukan, memasak, menyuci, membersihkan rumah, termasuk mengasuh kedua anaknya. Disana aku benar-benar bekerja keras. Tanganku tak lagi halus seperti dulu yang hanya sering kugunakan untuk menulis, belajar, dan sesekali membantu bapak ke sawah. Sebenarnya aku betah bekerja padanya. Tapi setelah dua tahun, Mrs. Eliza menyuruhku pulang. Bukan karena pekerjaanku yang tak baik, tapi dia menyayangkan bila aku tak melanjutkan sekolah lagi. Mrs. Eliza selalu meyakinkanku kalau aku masih bisa meraih cita-citaku yang sempat tertunda. Impianku menjadi ilmuwan yang dulu pernah terkubur mulai kubangkitkan lagi.
***
           
Bus mulai melaju. Kulihat keluar, Mrs. Eliza sudah pergi. Mataku kemudian mengamati bus ini. Tepat di atas kepalaku, kulihat sebuah lampu yang padam. Aku memandangi lampu itu. Aku jadi teringat salah satu impianku dulu, “ingin semalam saja tidur dibawah temaramnya cahaya lampu”. Betapa dulu aku sangat memimpikan hal itu. Aku masih ingat betul, waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia, aku masih kelas VIII, Bu Wahyu, guruku memberi tugas menceritakan impian kita. Aneh mungkin impianku. Terlalu rendah, tak berharga, tapi tidak menurutku. Aku tak peduli bagaimana teman-temanku menertawakan impianku, karena kupikir mimpi itu bak udara, gratis, siapapun bebas menghirupnya, tak ada batas yang membatasi jumlah dan jauh impian kita. Aku percaya pasti akan selalu terbuka jalan menggapai impian. Impianku yang kelihatan remeh itu merupakan satu dari banyak impian besarku. Betapa tidak, waktu itu rumahku belum terjangkau listrik. Selain karena rumahku yang jauh di pelosok, orangtuaku memang tak punya uang untuk memasang listrik. Bayangkan tahun 2008, saat semuanya serba modern, malam-malamku masih ditemani gelap yang mencekam, hanya ada dua lampu “cemplok”3. Belajarpun tak senyaman teman-temanku. Aku harus memaksa mataku membaca di remang-remangnya cahaya lampu. Namun aku bersyukur mataku hingga kini masih normal, bisa melihat dengan jelas. Apalagi saat ini impianku itu telah terwujud, ya sejak aku bekerja di Bogor, aku bisa sepuasnya menyalakan lampu, kapan pun. Sebenarnya kalau ingat mimpi itu konyol juga sih. Aku tersenyum sendirian.
            Kupandang jalan-jalan diluar. Siang hari seperti ini lalu lintas sangat padat. Kulirik penumpang-penumpang yang lain, Ada yang tertidur pulas, ada yang sibuk memainkan handphone, ada juga yang hanya diam, melamun, seperti aku. Kusandarkan kepalaku dikursi bus. Kupejamkan mata, namun tak kunjung tertidur. Aku kembali teringat rumahku di desa. Di rumah aku tak bisa bersandar senyaman ini. Dinding rumahku bukan dari bata, tapi dari gedek4 yang sudah tua, berpuluhan tahun tak pernah ganti. Setiap kali aku bersandar, bapak selalu memarahiku, melarangku bersandar di gedek yang sudah reot itu, takut roboh. Waktu itu aku juga punya impian membangun rumah dengan tembok yang kuat, biar bila ada angin kencang rumahku tak roboh.
            Tapi, betapapun buruk rumahku, aku sangat merindukannya. Rumahku, bagaimana ya kabarnya? Masihkah sama seperti dulu adanya? Ataukah sudah direnovasi oleh bapak.
Seketika wajah bapak datang membayangiku. Lagi-lagi aku menarik nafas panjang, mengingat bagaimana kejamnya dunia mengubah sikap bapak. Dulu waktu aku kecil bapak begitu sayang padaku. Meskipun tak pernah memanjakanku tetapi banyak hal yang diajarkannya padaku. Bahkan dia yang pertama kali mengajariku bermimpi. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, semakin banyak ujian menimpa, terutama himpitan ekonomi, sikap bapak menjadi kasar, arogan, tak lagi sabar, tak lagi mendukung cita-citaku, pemikirannya menjadi pragmatis, kolot, suka marah-marah, dan entah apalagi, menandakan keputus asaan. Ah, sungguh aku merasakan sendiri bagaimana kemiskinan sangat berpengaruh pada kondisi psikologis seseorang. Namun, meskipun begitu tak pernah tersimpan dendam dalam hati, tak ada luka yang membekas lara hingga saat ini.
Bapak, bapak, aku rindu. Bagimana ya kabar bapak? Dua tahun sudah aku tak mendengar kabar darinya. Aku tak sabar ingin segera sampai, perjalanan terasa sangat panjang. Hatiku menjadi tak tenang, gelisah, akibat rindu yang tak tertahankan lagi.
            Aku merindukan bapak. Ingin segera kucium tangannya. Bersimpuh dihadapannya. Aku merindukannya, biarpun tak jarang bapak menyakitiku, melukai perasaanku. Aku merindukannya, meskipun bapak yang membuatku terpaksa tertunda untuk melanjutkan sekolah, meskipun bapak pula yang sempat akan menjualku untuk membayar hutangnya. Ingatanku kembali berjalan zigzag dan jumping. Episode demi episode mulai berkelebatan di benakku. Kisah yang sangat pilu itu masih sangat tergambar jelas. Tanpa kuminta, memori itu terputar begitu saja.
***
            Aku ingat betul dua tahun yang lalu, waktu itu aku baru pulang dari acara wisuda SMP Nusa Bangsa. Meskipun aku menjadi lulusan terbaik se-Jawa Timur, aku tak bisa bangga, bahkan diliputi penyesalan yang dalam. Banyak hal yang membuatku sedih. Tak ada satupun keluarga yang menghadiri wisudaku. Ibu yang sebelumnya pernah berjanji akan pulang ke tanah air 6 bulan sebelumnya, mengingkari janjinya. Dia tak datang, bahkan meninggalkanku selamanya, Tuhan telah mengambilnya lebih dulu melalui kecelakaan pesawat saat menuju tanah air. Sementara bapak, boro-boro mau hadir, urusan sekolahku saja dia tak terlalu peduli, bahkan sekedar menanyakan nilai saja pun tak pernah, Terakhir yang membuatku paling sedih, bapak tak menyetujuiku melanjutkan ke jenjang SMA, meskipun aku mendapat beasiswa tiga tahun penuh. Coba bayangkan, bagaimana bila ada di posisiku.
            Waktu itu ketika aku pulang dari acara wisuda, betapa kagetnya aku, di meja makan terhidang berbagai makanan mewah, enak-enak pula tampaknya. Apakah bapak sengaja memberi kejutan untukku? Masak sih? Tak biasa-biasanya bapak baik seperti itu padaku. Kulihat kedua adikku, Lina dan Ayu makan dengan lahapnya.
“Mbak Intan, ayo cepat gabung sini, kita makan bareng, enak banget nih.”, kata Lina
“Iya, ya, wah kebetulan nih, mbak juga laper banget, tapi bapak mana? Bapak sudah makan belum?”
“Katanya sih tadi udah, sama bapak Ayu suruh ajak mbak Intan makan”
Langsung kucomot piring di meja. Sambil mengambil nasi, kutanya adikku,
“Memangnya tadi bapak masak sendirian?”
“Hahaha,.. Mbak Intan.. Mbak Intan.. memangnya sejak kapan bapak jago masak seenak ini. Ini tadi dikasi Pak Taka, katanya spesial buat ngrayain wisudanya mbak Intan”
Deg! Apa? Segera kutaruh piringku. Nafsu makanku seketika hilang, tergantikan mual. Oh, hari ini ditambah lagi satu kesedihan. Aku terduduk lemas. Mataku sudah berkaca-kaca. Ayu dan Lina hanya memandangiku. Entah apa mereka mengerti perasaanku atau tidak. Lama aku terdiam. Sampai tak kusadari bapak sudah duduk di depanku.
“Gimana nduk5 wisudanya? Bapak tadi sebenarnya mau ke sekolahmu, tapi tadi tiba-tiba Pak Taka datang kesini, mau ditinggal gak enak. Dia yang membawa makanan ini, katanya khusus untuk kamu. Dia juga minta maaf tak bisa hadir di wisudamu. Dia tadi juga menyampaikan pesannya kalau akad nikah kalian ditunda enam bulan lagi. Pak Taka masih harus menyelesaikan tugasnya di Kalimantan”
Apa? Betapa kagetnya aku. Bagai disambar petir aku mendengarnya Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Bisa kurasakan aliran darah yang naik ke ubun-ubun. Seenaknya saja tiba-tiba menunda akad nikah, memang kapan aku menerima pinangannya? Apa jangan-jangan ini ulah bapak? Apa bapak yang langsung mengiyakan saja apa kata si tua hidung belang itu. Kenapa bapak tak meminta persetujuanku dulu. Setega itukah bapak membiarkanku menikah dengan lelaki yang seumuran dengannya? Namun kepada siapa aku bisa menggugat? Oh, andaikan ibu masih ada…
Wes lah nduk, manuto!6 Pak Taka itu orang baik. Dia dulu yang membantu menyekolahkanmu, dia banyak membantu keluarga kita. Mungkin tanpa campur tangan Pak Taka kita akan semakin kekurangan, kalau bapak sakit, atau kamu dan adik-adikmu, Pak Taka pula yang membantu. Perbedaan umur tak menjadi alasan. Ibumu dulu nikah sama bapak juga seusia kamu.” Bapak seolah tahu apa yang kupikirkan.
            Perutku semakin merasa mual, mendengar lelaki brengsek itu dipuji-puji bapakku. Baik darimana coba? Suka memberi pinjaman? Ah, dia itu lintah darat yang kejam. Luarnya saja yang terlihat berwibawa, tapi dalamnya? Sok-sok membantu keluargaku, sok mendukungku sekolah, tapi ujung-ujungnya dia menganggapnya semua itu pinjaman berbunga, semakin lama melunasinya, semakin banyak pula bunga yang harus dibayarkan. Dulu saat aku hendak masuk SMP, Pak taka memang yang membiayaiku. Ibuku yang menyadari bahwa pak Taka pasti menganggapnya sebagai hutang memutuskan bekerja ke luar negeri, sebagai TKW. Kata ibu, ibu akan melakukan apapun demi mewujudkan cita-cita anaknya. Sangat kontras dengan bapak, yang masih saja kolot! Oh, andaikan ibu masih ada, pasti hutang itu lunas sudah. Tuhan, kenapa kau ambil ibuku?
            Namun, aku tak boleh menggugat Tuhan. Aku menarik nafas, menahan emosi yang hendak meletup-letup ini. Dadaku sesak, tak berani kusampaikan gugatan-gugatan itu pada bapak. Selama ini tak pernah sekalipun aku melawannya.
“Bapak capek hidup dililit hutang, hidup susah terus. Lihat pula Lina dan Ayu, kamu tak kasihan pada mereka? Setiap hari terpaksa makan sekali, itupun hanya dengan ketela. Lha kalau kamu menikah sama Pak Taka, alangkah senang adik-adikmu setiap hari makan enak seperti ini. Hutang kita dianggap lunas. Sekolah adik-adikmu juga ditanggung. Kamu gak ingin tinggal di rumah yang bagus, makan enak? Hidupmu juga akan makmur, tentram, banyak harta”.
Pemikiran kolot! Materialistis! Berkali-kali aku mendengar bujuk rayu bapak agar aku mau menikah dengan Pak Taka. Tapi entah mengapa kali ini aku benar-benar sakit hati. Tak tahan aku. Aku bukan boneka yang bisa diperjualbelikan semudah itu. Aku bukan barang yang semudah itu digadaikan hanya untuk melunasi hutang. Sungguh rendah sekali harga diriku bila aku mau menikah dengan Pak Taka yang sudah dua kali kawin cerai. Di zaman modern ini kenapa masih saja ada Siti Nurbaya? Kenapa masih saja ada kawin paksa. Oh nasibku benar-benar seperti Siti Nurbaya. Tapi aku Intan bukan Siti Nurbaya. Aku masih tak mau menyerah dalam menggapai cita-citaku. Namun lagi-lagi, suaraku hanya tersekat di tenggorokan, lidahku kelu, tak sanggup mengatakan semua gugatan itu.
“Pak, Intan masih mau sekolah”, hanya itu yang sanggup kuucap. Lirih, suaraku parau menahan tangis.
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Kamu hanya gadis desa, anak kampung, gak pantes sekolah tinggi, toh kamu anak perempuan, bisa apa? Nanti kamu juga hanya akan macak, manak, masak.7” Suara bapak mulai meninggi.
Semakin sakit hatiku mendengarnya.
“Pak, sekarang sudah zaman modern. Meskipun kita orang pelosok, tapi kita jangan terus-terusan primitif. Sekarang sudah jamannya emansipasi wanita. Derajat lelaki dan perempuan sama. Bukankah dulu bapak sendiri yang mengajariku bercita-cita? Intan juga punya hak menempuh pendidikan yang tinggi. Intan bukan Siti Nurbaya, Pak. Intan punya cita-cita dan cinta yang tak bisa dipaksakan.” Akhirnya keluar juga kata-kata itu. Aku tak tahu darimana kudapatkan kekuatan mengatakan ini. Aku sendiri tak sadar bagaimana kata-kata itu bisa kuucapkan. Kulihat perubahan air muka bapak. Sepertinya dia marah.
“Jadi kamu sudah berani menantang bapak?”
“Bapak yang tega padaku, bapak menjadikanku boneka yang bisa dipermainkan semudah itu, yang bisa digadaikan dengan harta. Pak kekayaan itu bukan sumber bahagia.” Suaraku tak kalah tinggi dengan suara bapak. Entah angin darimana yang membuatku seberani ini.
Plak! Tiba-tiba tangan kasar bapak menampar pipiku.
“Kurang ajar kamu. Ini hasilnya kamu sekolah? Bisanya melawan orangtua? Kamu taruh mana adabmu hah?” Bentak bapak. Suaranya yang menggelegar membuatku gemetaran. Kutahan airmata yang hendak tumpah. Kukumpulkan lagi segenap keberanian. Kutarik nafas kuat-kuat.
 “Apa gunanya kamu sekolah? Dasar tak tahu diri”, bapak benar-benar emosi
Suasana hening, tegang, airmataku akhirnya tumpah. Aku tak terima dengan perkataan bapak. Aku tak mau kawin paksa. Aku masih 15 tahun. Masih panjang waktu remajaku. Lama kami terdiam dalam bisu.
“Baiklah pak, maaf kalau Intan lancang, tapi lebih baik Intan pergi saja daripada Intan hidup dalam ketertekanan. Intan nggak takut mati. Intan akan buktikan kalau Intan akan sukses, dan akan Intan bayarkan hutang keluarga kita pada Pak Taka. Intan janji. Nyawa Intan taruhannya”. Aku tak tahan lagi dengan sikap bapak yang keterlaluan keras. Kukemasi barang-barangku secukupnya saja. Kuraih dan kucium tangan bapak, tetapi bapak malah membuang muka dan menyentakkan tanganku. Kupeluk Lina dan Ayu. Mereka menangis, entah mereka mengerti atau tidak apa yang terjadi. Impianku waktu itu aku harus bisa melunasi hutang keluargaku pada Pak Taka.
***
Aku menangis bila mengingatnya. Penumpang bus di sebelah memandangku. Mungkin mereka menganggapku gila, karena tiba-tiba terisak, tersenyum sendirian, ya memang seperti orang tak waras. Tapi what a hell
Sebenarnya bapak tak bisa disalahkan begitu saja. Bertahun-tahun bapak hidup dalam ketertekanan, kemiskinan, kesusahan. Wajar bila dia ingin merasakan kebahagiaan, yang menurutnya bahagia identik dengan kekayaan. Ah, aku menyesal mengapa dulu aku melawannya, bertengkar dengan satu-satunya orangtua yang masih kumiliki. Mungkin aku telah durhaka. Apalagi selama ini aku tak pernah memberi kabar. Bahkan aku mengirim uang ke bapak lewat Sarah, teman SMPku yang rumahnya agak jauh. Selain karena rumahku yang terpencil, sulit dicari oleh Pak pos, aku juga tak ingin bapak tahu alamat tempat aku bekerja. Aku takut bapak masih marah padaku dan juga untuk menghindari kejahatan Pak Taka, pastinya dia marah aku membatalkan pernikahan secara sepihak. Aku selalu berdoa semoga Pak Taka tidak membalas dendam pada bapak.
***
            “Terminal.. terminal…” teriak kondektur mengagetkanku, membuyarkan lamunanku. Akhirnya sampai juga. Kulirik arlojiku, sudah jam 15.25 WIB.Para penumpang bergegas keluar dari bus. Entah mengapa aku merasa gugup, berbagai perasaan bercampur aduk, senang, tak sabar, takut, khawatir, entah apa lagi. Kurasakan tanganku yang gemetar. Ku edarkan pandangan ke sekeliling. Aku sudah memberitahu berita kepulanganku ke rumah. Sarah pernah bercerita saat dia mengantar uang kirimanku ke bapak, bapak mengatakan dia sangat merindukanku. Namun, entah aku tak bisa percaya begitu saja. Aku takut bapak masih marah. Karena itu, di surat terakhirku, sengaja aku juga meminta bapak berkenan menjemputku di terminal ini sebagai tanda kalau bapak memang telah memaafkanku.
Sambil menenteng koper besar, berisi oleh-oleh, aku berjalan menyusuri terminal. Dari ujung ke ujung, dari barat ke timur, menengok toko demi toko yang ada, barangkali aku melihat bapak. Tapi ah, nihil. Tak kulihat bapak di terminal ini. Apakah bapak masih marah padaku? Ah, bapak, bagaimanapun dulu engkau tega padaku, tapi aku tetap menyayangimu, merindukanmu.
            Ku usap keringat yang mengalir deras di dahiku. Aku lelah, putus asa. Harapan kalau bapak akan menjemputku di terminal pupus sudah. Aku kembali berjalan hingga sampai pada jalan besar. Aku tak segera naik angkot untuk pulang ke rumah. Aku semakin merasa was-was saja. Kalau bapak tak menjemputku disini, itu pertanda bapak tak memaafkanku. Aku kecewa berat. Entah mengapa aku merasa begitu marah. Perjuangan berat dan banyak pengorbanan yang telah kulakukan belum juga terbalas kebaikan. Aku berjalan sambil tertunduk lesu.
“Mbak Intan… Mbak Intan…”
Aku seperti mendengar namaku disebut-sebut. Siapa ya. Kucari-cari sumber suara itu, darimana arahnya ya. Ataukah ini hanya ilusi karena terlalu berharap bapak, Lina, dan Ayu menjemputku.
“Mbak Intan… Mbak… Lina disini mbak, di seberang jalan… Mbak Intan…” teriakan itu semakin kencang.
Aku segera menoleh. Ya allah, itu Lina, Ayu, dan bapak. Antara percaya dan tidak dengan penglihatanku. Kukucek kedua mataku, memastikan ini bukan khayalan. Ya, ini benar-benar kenyataan. Hatiku sungguh senang tak terkirakan. Mereka benar-benar menjemputku di terminal, itu artinya mereka memafkanku. Bapak melambaikan tangannya padaku, sambil tersenyum. Oh, ini impianku sejak tinggal di Bogor, bertemu kembali dengan bapak yang menyambut senang kedatanganku. Terimakasih Tuhan. Betapa sayangnya Engkau padaku. Tuhan telah memeluk impian-impianku. Hampir semua yang pernah kuimpikan kini telah terwujud.
Aku tak sempat berkata-kata lagi. Aku mempercepat langkah, menerobos kerumunan orang, ingin segera bersimpuh di kaki bapak. Aku ingin mengatakan padanya aku berhasil memenuhi janjiku.
“Bapak….” Teriakku di tengah ramainya lalu lintas.
“Intan, bapak sayang sama kamu, nduk. Maafkan bapak ya...” Bapak juga berteriak, tak kalah kerasnya denganku. Senyum mengembang dari bibirku. Airmata mengalir deras. Sungguh aku merasa lega.
Begitu bahagianya, hingga aku benar-benar lupa akan lalu lalangnya kendaraan. Satu dipikiranku, segera memeluk bapak dan bersimpuh dikakinya. Tak sabar, aku berlari, tanpa kuhiraukan lampu hijau yang menyala.
“Mbak Intan, awas! Ada truk…” teriak Lina.
“Tiiiiiiiiinn…”
Refleks aku menoleh ke kanan. Truk itu tinggal beberapa centimeter dari badanku. Koper dan tas ditanganku terlepas, mataku menatap lurus truk itu. Aku terlalu kaget. Aku hanya berdiri mematung, bergeming.
Tiba-tiba…
Bruaaaaaaakkk!
Aku merasa semuanya berjalan lambat, tubuhku seolah melayang-layang diudara. Samar-samar, mataku masih sempat melihat bapak dan kedua adikku yang berlari menghampiriku. Telingaku masih sempat mendengar jeritan orang-orang di pinggir jalan. Masih bisa kurasakan saat bapak menggendong tubuhku, namun ku tak lagi bisa melihatnya. Mataku terasa sangat berat.
“Intan… Intan… jangan tinggalkan bapak, nduk. Bapak sayang sama kamu nduk, maafkan bapak yang dulu sering menyakitimu, bapak menyesal, nduk buka matamu, …” suara bapak terdengar pelan, seolah semakin jauh.
“Iya, Mbak, bapak sekarang baik banget, Ayu sering diantar ke sekolah, bapak juga yang mengajariku meraih cita-cita, bapak yang selalu….”
“Mbak Intan, bangun, mbak belum melihat rumah baru kita, belum lihat Lina jadi anak yang pinter. Mbak, banyak yang ingin…” entah apa lagi yang dikatakannya.
Jeritan dan teriakan orang-orang pun perlahan mulai menghilang. Tubuhku terasa semakin ringan. Semuanya menjadi semakin gelap. Ingin aku berkata pada bapak,
“Aku telah memenuhi janjiku, aku berhasil meraih impianku…”
Namun kalimat itu tak sanggup ku katakan. Bahkan aku tak sanggup mendengar suara-suara keramaian lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi. Namun aku merasakan kebahagiaan yang tak terperikan sungguh.
Aku merasakan kesejukan menyelimuti tubuhku. Aku tak lagi berada di kegelapan. Aku bisa kembali melihat cahaya terang. Bahkan indah sekali cahaya ini. Di kejauhan kulihat ibu yang semakin mendekat ke arahku, mengulurkan tangannya menyambutku.
Oh, hari ini aku mendapat banyak sekali kebahagiaan, bertemu bapak, kedua adikku, dan sekarang ibuku yang menjemputku dan akan menemaniku selamanya. Ibu aku juga merindukanmu…
***
                                                                                         
Keterangan:
  1. Raih mimpimu
  2. Struktur bahasa
  3. Sejenis lampu tradisional yang bahan bakarnya dari minyak tanah
  4. Rajutan dari bambu
  5. Panggilan jawa untuk anak perempuan
  6. Sudahlah, menurutlah, (bahasa jawa)
  7. Berhias, melahirkan, memasak
  8. Tak peduli (idiom dalam Bahasa Inggris)


                                                                                          Karya                      : Lina Kamaliyah
                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar