Senin, 29 Juli 2013

Repost catatan pesbuk, about my parent


gejala merindu memang bermacam-macam, mulai dari menangisi yang dirindu, pandangi poto-potonya, terus baca tulisan-tulisanku sendiri tentangnya, dan nemu tulisan dibawah ini yg sebelumnya juga pernah saya posting di pesbuk juga 3 tahun yang lalu, semakin menjadi tangisku setelah baca ini,


12 April 2010 pukul 9:42
Entahlah mengapa tiba-tiba ingin ku menulis ini, entah penting atau tidak, dibaca atau tidak, EGP! Aku tetap ingin menulis apa yang ada di benakku sekarang.
Detik ini, saat aku tengah asyik berkutat di depan virtual world, tiba-tiba airmataku menitik! Entah mengapa, aku merasakan kangen yang begitu dahsyat pada ibu dan ayah. Kangen sekangen-kangennya. Aku ingin bertemu dengan kedua orang terbaik yang kumiliki. Rindu kali ini beda dengan rindu-rinduku biasanya.
Sejak aku jauh dari rumah, aku semakin bisa merasakan cinta kasihnya yang sangat tulus, suci. Aku semakin suka dan semakin sering mendatangkan Ibu dan Ayah dalam hari-hariku, aku suka mengingat beliau berdua terutama saat hendak belajar. Mereka akan menemaniku hingga ku larut dalam ilmu yang tengah kupelajari karena merekalah semangatku, merekalah inspirasiku, merekalah yang selalu menjadi motivasiku..
Ibu dan ayah, di mataku beliau berdua amatlah sangat terlalu baik. Beliau mengasihiku bersama saudara-saudaraq dengan setulus-tulusnya kasih sayang, membesarkan kami dengan pendidikan yang begitu baik, yang tak ‘kan pernah ku peroleh di lembaga-lembaga pendidikan formal. Meskipun result dari didikan ibu dan ayah belum banyak yang nampak, karena hingga saat ini belum ada dari kami yang menunjukkan suatu kesuksesan yang besar.
Yang ku lihat dari orangtuaku adalah keihklasannya dalam mengemban tanggungjawabnya yang begitu berat dalam membesarkan dan mendidik kami, tentunya dengan berbagai kesulitan, terutama persoalan ekonomi.
Keluargaku bukan dari kalangan atas, kami tak lebih dari sebuah keluarga di pedesaan yang relatif hidup kesusahan. Tiap harinya ayah bekerja sebagai petani, lebih tepatnya sih buruh tani, karena bukan sawah sendiri yang digarap. Sementara ibuku beliau menjalankan kariernya sebagai ibu rumah tangga. Kau bisa membayangkan betapa sulitnya beliau berdua mencari uang demi pendidikanku dan saudara-saudaraku.
Pernah kulihat ibu menangis, mungkin karena begitu sulitnya persoalan yang dihadapi. Pernah juga kulihat ayah pontang-panting kesana-sini mencari pinjaman uang. Semuanya demi kami, anak-anaknya.
Apakah aku menyesal telah dilahirkan dari keluarga berekonomi rendah? Sama sekali TIDAK! Justru aku bangga! Bangga mempunyai orangtua macam Ibu Ayah.
Sang ayah, yang multitalenta. Di siang hari, beliau akan bermain-main dengan cangkul, menari-nari di bawah teriknya sengatan matahari, sekali lagi semuanya demi anak-anaknya! Saat di rumah beliau akan bermetamorfosis menjadi mahaguru yang tak hanya mendidik kami sebagai anak-anaknya, tetapi juga masyarakat desa sekitar. Padahal rutinitasnya sebagai tokoh agama juga sebagai tokoh masyarakat tak jua mengubah kehidupan, tidak pula menambah penghasilan sedikitpun. Namun itu adalah bagian dari tanggungjawabnya. Beliau tetap ikhlas dalam menjalankan berbagai profesinya itu, yakin akan mendapat balasan kebaikan yang jauh lebih besar, entah kapan itu.
Sementara sang Ibu,? Kalau banyak wanita saat ini beramai-ramai atau bersibuk-sibuk ria mengejar profesi sebagai wanita karier, tidak dengan Ibuku. Ibu tetap menjadi ibu rumahtangga, menjadi ibu yang senantiasa mengasuh, mengawasi, menemani kami sepanjang waktu, selalu berusaha membuat kami bahagia, dan selalu ada untuk kami kapanpun. salah satu kebiasaan Ibu untuk membuat kami senang, setiap kali kami sekeluarga sedang berkumpul di rumah, ibu akan memasak masakan "spesial", membuat berbagia manisan, camilan, apapunlah itu. Ibu kasihan melihat kami diam, tidak ada camilan. entahlah aku tak tahu bagaimana ibu mengatur keuangannya. Tak jauh beda dengan ayah, ibu juga aktif dalam masyarakat. Sering kulihat ibu memberi atau berbagi rezeki dengan tetangga yang sama-sama tak mampu. Ibu sering mengajari kami untuk tidak menutup mata pada orang-orang yang lebih susah dari kita.
Yang ku bangga lagi dari orangtua adalah mereka tak pernah sedikitpun berputus asa demi anak-anaknya. Tak bosan-bosannya beliau mendidik kami. Mereka mengajariku betapa pentingnya mendekatkan diri pada Alloh. Seberat apapun persoalan pasti ada jalannya asal kita tak letih berdoa dan ikhtiar. Dan memang, semua itu benar. Salah satu contoh buktinya yaitu keberhasilan beliau dalam menyekolahkan anak-anaknya sampai tinggi. Kedua kakakku sedang kuliah, sementara aku di SLTA. Kami bertiga sama-sama tinggal di pesantren. Dan adikku masih duduk di MI. Secara logis, kalau dikalkulasi, profesi sebagai buruh tani dengan gaji yang tidak menetap dan tentu sangat minim, mana mungkin cukup untuk membiayai anak-anaknya sekolah sampai setinggi itu. Paling-paling cuma cukup untuk makan sehari-hari. Namun, bi idzinillah, dengan niat, keyakinan yang kuat, do’a, ikhtiar yang tiada henti, semua itu dapat terealisasi. Itu pulalah yang sering diajarkan ibu-ayah pada kami. Selalu husnudzon pada taqdir ilahi. Selalu optimis memandang ke depan. Selalu yakin dan bersyukur atas semua yang diberikan Alloh bahwa inilah yang terbaik.
Aku mulai menyukai cara Ibu-ayah dalam "mengadili" kami saat melakukan kesalahan. Beliau akan mendudukkan kami di kursi panas, meminta kami jujur akan kesalahan yang telah diperbuat. Meskipun disetiap kata yang keluar terselip nada kemarahan, tapi jarang sekali beliau menghardik atau menggunakan kata-kata yang kasar. Aku menyukai kata-katanya yang langsung 'kena' -yang memang agak 'nylekit' menurutku- dan membuatku sadar untuk menghindari mengulangi kesalahan itu. Aku mulai menyadari dibalik kemarahan itu tersimpan suatu kekhawatiran yang besar, mana ada orangtua yang tak was-was atau takut anak-anaknya melangkah ke arah yang salah. Aku pun baru tahu, ternyata sebenarnya beliau tak pernah tega memarahi kami. Semua itu terpaksa, karena ibu-ayah menyayangi kami.
Orangtuaku tak pernah menuntut kami menjadi seperti keinginan mereka. Tak pernah mengekang kami. Tak pernah meminta balasan atas semua yang telah begitu banyak dikorbankan secara cuma-cuma kepada kami. Tak pernah! Beliau berdua hanya berharap kami bahagia di akhirat juga dunia. Mereka menginginkan kami memiliki ilmu yang bermanfaat. Mereka selalu mendoakan kami agar kami bisa menjadi teladan, kebanggaan agama dan bangsa. Sebuah harapan yang sangat luhur, bukan?
Tentuu masih banyak lagi yang ku bangga dari ibu dan ayah. Masih banyak dan tak terhitung jasa-jasa mereka, tak mungkin cukup bila kutulis semua. Sungguh, benar-nenar kurasakan kasih yang begitu tulus dan ikhlas dari ibu dan ayah.
Lagi-lagi ku tak peduli efek dari tulisan singkat ini. Bukan ku ingin mengeluh. Bukan pula ingin mendapat pujian atas yang kutulis. Bukan ingin apa-apa! yang penting ku hanya ingin menulis apa yang ingin ku tulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar