gejala merindu memang bermacam-macam, mulai dari menangisi yang dirindu, pandangi poto-potonya, terus baca tulisan-tulisanku sendiri tentangnya, dan nemu tulisan dibawah ini yg sebelumnya juga pernah saya posting di pesbuk juga 3 tahun yang lalu, semakin menjadi tangisku setelah baca ini,
12 April 2010 pukul 9:42
Entahlah mengapa
tiba-tiba ingin ku menulis ini, entah penting atau tidak, dibaca atau tidak,
EGP! Aku tetap ingin menulis apa yang ada di benakku sekarang.
Detik ini, saat
aku tengah asyik berkutat di depan virtual world, tiba-tiba airmataku menitik!
Entah mengapa, aku merasakan kangen yang begitu dahsyat pada ibu dan ayah.
Kangen sekangen-kangennya. Aku ingin bertemu dengan kedua orang terbaik yang
kumiliki. Rindu kali ini beda dengan rindu-rinduku biasanya.
Sejak aku jauh
dari rumah, aku semakin bisa merasakan cinta kasihnya yang sangat tulus, suci.
Aku semakin suka dan semakin sering mendatangkan Ibu dan Ayah dalam
hari-hariku, aku suka mengingat beliau berdua terutama saat hendak belajar.
Mereka akan menemaniku hingga ku larut dalam ilmu yang tengah kupelajari karena
merekalah semangatku, merekalah inspirasiku, merekalah yang selalu menjadi
motivasiku..
Ibu dan ayah, di
mataku beliau berdua amatlah sangat terlalu baik. Beliau mengasihiku bersama
saudara-saudaraq dengan setulus-tulusnya kasih sayang, membesarkan kami dengan
pendidikan yang begitu baik, yang tak ‘kan pernah ku peroleh di lembaga-lembaga
pendidikan formal. Meskipun result dari didikan ibu dan ayah belum banyak yang
nampak, karena hingga saat ini belum ada dari kami yang menunjukkan suatu
kesuksesan yang besar.
Yang ku lihat
dari orangtuaku adalah keihklasannya dalam mengemban tanggungjawabnya yang
begitu berat dalam membesarkan dan mendidik kami, tentunya dengan berbagai
kesulitan, terutama persoalan ekonomi.
Keluargaku bukan
dari kalangan atas, kami tak lebih dari sebuah keluarga di pedesaan yang
relatif hidup kesusahan. Tiap harinya ayah bekerja sebagai petani, lebih
tepatnya sih buruh tani, karena bukan sawah sendiri yang digarap. Sementara
ibuku beliau menjalankan kariernya sebagai ibu rumah tangga. Kau bisa
membayangkan betapa sulitnya beliau berdua mencari uang demi pendidikanku dan
saudara-saudaraku.
Pernah kulihat
ibu menangis, mungkin karena begitu sulitnya persoalan yang dihadapi. Pernah
juga kulihat ayah pontang-panting kesana-sini mencari pinjaman uang. Semuanya
demi kami, anak-anaknya.
Apakah aku
menyesal telah dilahirkan dari keluarga berekonomi rendah? Sama sekali TIDAK!
Justru aku bangga! Bangga mempunyai orangtua macam Ibu Ayah.
Sang ayah, yang
multitalenta. Di siang hari, beliau akan bermain-main dengan cangkul,
menari-nari di bawah teriknya sengatan matahari, sekali lagi semuanya demi
anak-anaknya! Saat di rumah beliau akan bermetamorfosis menjadi mahaguru yang
tak hanya mendidik kami sebagai anak-anaknya, tetapi juga masyarakat desa
sekitar. Padahal rutinitasnya sebagai tokoh agama juga sebagai tokoh masyarakat
tak jua mengubah kehidupan, tidak pula menambah penghasilan sedikitpun. Namun
itu adalah bagian dari tanggungjawabnya. Beliau tetap ikhlas dalam menjalankan
berbagai profesinya itu, yakin akan mendapat balasan kebaikan yang jauh lebih
besar, entah kapan itu.
Sementara sang
Ibu,? Kalau banyak wanita saat ini beramai-ramai atau bersibuk-sibuk ria
mengejar profesi sebagai wanita karier, tidak dengan Ibuku. Ibu tetap menjadi
ibu rumahtangga, menjadi ibu yang senantiasa mengasuh, mengawasi, menemani kami
sepanjang waktu, selalu berusaha membuat kami bahagia, dan selalu ada untuk
kami kapanpun. salah satu kebiasaan Ibu untuk membuat kami senang, setiap kali
kami sekeluarga sedang berkumpul di rumah, ibu akan memasak masakan
"spesial", membuat berbagia manisan, camilan, apapunlah itu. Ibu
kasihan melihat kami diam, tidak ada camilan. entahlah aku tak tahu bagaimana
ibu mengatur keuangannya. Tak jauh beda dengan ayah, ibu juga aktif dalam
masyarakat. Sering kulihat ibu memberi atau berbagi rezeki dengan tetangga yang
sama-sama tak mampu. Ibu sering mengajari kami untuk tidak menutup mata pada
orang-orang yang lebih susah dari kita.
Yang ku bangga
lagi dari orangtua adalah mereka tak pernah sedikitpun berputus asa demi
anak-anaknya. Tak bosan-bosannya beliau mendidik kami. Mereka mengajariku
betapa pentingnya mendekatkan diri pada Alloh. Seberat apapun persoalan pasti
ada jalannya asal kita tak letih berdoa dan ikhtiar. Dan memang, semua itu
benar. Salah satu contoh buktinya yaitu keberhasilan beliau dalam menyekolahkan
anak-anaknya sampai tinggi. Kedua kakakku sedang kuliah, sementara aku di SLTA.
Kami bertiga sama-sama tinggal di pesantren. Dan adikku masih duduk di MI.
Secara logis, kalau dikalkulasi, profesi sebagai buruh tani dengan gaji yang
tidak menetap dan tentu sangat minim, mana mungkin cukup untuk membiayai anak-anaknya
sekolah sampai setinggi itu. Paling-paling cuma cukup untuk makan sehari-hari.
Namun, bi idzinillah, dengan niat, keyakinan yang kuat, do’a, ikhtiar yang
tiada henti, semua itu dapat terealisasi. Itu pulalah yang sering diajarkan
ibu-ayah pada kami. Selalu husnudzon pada taqdir ilahi. Selalu optimis
memandang ke depan. Selalu yakin dan bersyukur atas semua yang diberikan Alloh
bahwa inilah yang terbaik.
Aku mulai
menyukai cara Ibu-ayah dalam "mengadili" kami saat melakukan
kesalahan. Beliau akan mendudukkan kami di kursi panas, meminta kami jujur akan
kesalahan yang telah diperbuat. Meskipun disetiap kata yang keluar terselip
nada kemarahan, tapi jarang sekali beliau menghardik atau menggunakan kata-kata
yang kasar. Aku menyukai kata-katanya yang langsung 'kena' -yang memang agak
'nylekit' menurutku- dan membuatku sadar untuk menghindari mengulangi kesalahan
itu. Aku mulai menyadari dibalik kemarahan itu tersimpan suatu kekhawatiran
yang besar, mana ada orangtua yang tak was-was atau takut anak-anaknya
melangkah ke arah yang salah. Aku pun baru tahu, ternyata sebenarnya beliau tak
pernah tega memarahi kami. Semua itu terpaksa, karena ibu-ayah menyayangi kami.
Orangtuaku tak
pernah menuntut kami menjadi seperti keinginan mereka. Tak pernah mengekang
kami. Tak pernah meminta balasan atas semua yang telah begitu banyak
dikorbankan secara cuma-cuma kepada kami. Tak pernah! Beliau berdua hanya
berharap kami bahagia di akhirat juga dunia. Mereka menginginkan kami memiliki
ilmu yang bermanfaat. Mereka selalu mendoakan kami agar kami bisa menjadi
teladan, kebanggaan agama dan bangsa. Sebuah harapan yang sangat luhur, bukan?
Tentuu masih
banyak lagi yang ku bangga dari ibu dan ayah. Masih banyak dan tak terhitung
jasa-jasa mereka, tak mungkin cukup bila kutulis semua. Sungguh, benar-nenar
kurasakan kasih yang begitu tulus dan ikhlas dari ibu dan ayah.
Lagi-lagi ku tak
peduli efek dari tulisan singkat ini. Bukan ku ingin mengeluh. Bukan pula ingin
mendapat pujian atas yang kutulis. Bukan ingin apa-apa! yang penting ku hanya
ingin menulis apa yang ingin ku tulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar