7
Agustus 2007
Butuh
tiga detik menjatuhcintainya. Awalnya aku tak yakin apakah ini benar-benar
cinta. Namun, dirinya selalu terpikirkan olehku dan selalu ada kegugupan saat
bertemu. Mungkin aneh atau bahkan tidak pantas aku menyukainya, mengingat usia
kami yang terpaut 11 tahun.
Dia
seorang guru dari sekolah lain, pertemuan pertama saat dia menjadi official
dari salah satu cabang perlombaan dalam PORSENI JATIM 2007. Kami bertemu saat
dia mencari muridnya yang kebetulan waktu itu sekamar denganku. Seperti dalam
sinetron-sinetron, tak sengaja aku bertabrakan dengannya dan entah mengapa saat
aku menatapnya aku merasa sangat-sangat gugup, nafasku sangat-sangat sesak,
perutku seperti sakit, dan tiba-tiba spontan aku lari menjauhinya, ada semacam
ketakutan yang berbaur dengan suatu rasa yang sulit aku menjelaskannya, tetapi
aku sangat bahagia. Hash, kuno banget sih ceritaku…
Dua
malam kemarin, 5 agustus, kami semobil saat pulang ke penginapan usai menjadi
supporter volly putri Kabupaten Malang yang masuk final. Entah aku yang ke GR
an atau memang benar adanya, aku merasa dia memberi perhatian yang berbeda
padaku dengan muridnya sendiri.
10
Juni 2008
Hari
ini ulangtahunnya. Aku hanya mengucapkan via sms tanpa menyebut namaku. Kami
tak pernah bertemu setelah pertemuan waktu PORSENI dulu itu. Pernah beberapa
kali kami berhubungan via sms dan telepon. Tetapi kemudian aku berusaha
menghilang dan kami benar-benar putus kontak. Aku teramat malu telah
menyukainya. Apalagi kudengar dari muridnya dia memang sosok yang sangat perhatian
pada siswi-siswinya. Hash, sungguh aku malu telah berprasangka dia memberiku
perhatian yang lebih. Dan detik ini aku mulai sedikit agak terbiasa tak
merindukannya. Mungkin benar kata orang, hanya butuh tiga detik menjatuhcintai
seseorang tetapi butuh waktu yang sangat lama melupakannya. Namun, aku sudah
bertekad tak menjadi seseorang yang terluka hanya karena cinta. Aku tak mau
percaya dengan love at first sight. Dia bukan cintaku, harus yakin itu.
19
Mei 2010
Sulit
untuk mengungkapkan, ataupun sekedar menulisnya. Bayangannya tak jua lepas dari
pikirku. Sulit sekali berhenti untuk sekedar tak mengingatnya sebentar saja.
Aaah, benarkah lagi-lagi jiwaku tertawan hanya oleh senyuman lelaki dalam tiga
detik? Benarkah ini cinta? Ah, hanya nafsu belaka mungkin.
Lelaki itu “sang ustadz, juri CC @ma’had
al-Hamidiyyah”
23
Mei 2010
Ada
kebanggaan tersendiri saat juara 1 CC untuk kedua kalinya berhasil
kupertahankan. Namun ada penyesalan yang sangat dalam, mengikuti CC ini
membuatku bertemu dengan ustadz itu, apalagi saat penyerahan piala ustadz itu
yang langsung memberikan. Kuamati beberapa kali dia tersenyum sambil menunduk
dan matanya terpejam. Padahal kata santri-santri lain yang diajarnya, sang
Ustadz jarang sekali tersenyum, dia sangat-sangat menjaga pandangan. Ah, aku
tidak ingin ke-Gr-an lagi untuk keduanya.
Jujur,
aku suka rasa ini, tapi juga sangat benci. Aku tahu aku dilarang keras
membiarkan bayangannya terus menari-nari dihatiku. Aku sadar resikonya bila
terus kubiarkan rasa ini berlarut-larut dijiwaku. Aku tahu, aku salah besar.
Aku hanyalah sekedar santri “semelekethe” yang kelakuanku masih edan dan sangat
hancur. Sangat-sangat tak pantas untuk sekedar menaruh harap atau
merindukannya, seorang ustadz yang subhanalloh begitu tawadlu’, alim, cerdas,
ghodul bashor, kalem banget, cakep tentunya, perfectlah dimataku. Sungguh,
teramat salah sekali aku, terlebih mengetahui dia sudah ditunangkan dengan
putri kyaiku.
Aku
mohon ini hanyalah sekedar rasa kagum, not more, atau layaknya remaja lain yang
begitu mudah berpindah-pindah hati, mudah jatuh cinta, mudah pula melupakan.
Aku mohon, jangan ada lagi pertemuan dengannya. Aku mohon kubur dalam-dalam
bayangannya dan rasa ini. Aku mohon…, pintaku ditiap tengah sujudku sejak
pertemuan dengannya.
16
Mei 2012.
Tumpuk!
Awalnya bahagia tak terperikan tapi entah kemudian mengapa ada sedikit rasa
yang mengganjal dihatiku, kebahagiaan yang bertumpuk dengan rasa kehilangan. Tepat
empat tahun dari perkenalan pertama. Tepat, selalu jatuh pada hari
ulangtahunnya.
Dulu,
empat tahun yang lalu, di pertemuan pertama yang mungkin juga pertemuan
terakhir sampai detik ini, yang aku bahkan tak ingat wajahnya. Waktu itu
sekitar Maret 2008, saat menghadiri pernikahan kakaknya yang juga adalah
guruku, dia sebagai fotografer, tapi aku tak begitu sempat memperhatikannya. Anehnya,
kuingat betul malam harinya aku tiba-tiba memimpikannya, meskipun tak jelas
wajahnya, tapi entah apa yang membuatku begitu yakin dialah yang dimimpiku,
meskipun aku belum mengenalnya. Aku mengenalnya kemudian hari, saat 16 Mei
2008, kehadiran pertamaku yang masih dengan hangat kuingat disebutnya sebagai
kado terindah, meskipun kehadiranku yang hanya via sms, berawal dari
kesalahkirimanku, mampu membuat kami dekat sampai beberapa hari kemudian dia
mengkhitbahku ke orangtuaku. Tak bisa kujelaskan bagaimana perasaanku saat itu.
Hei, aku masih belum genap 16 tahun, langkahku masih panjang, dan sedikitpun
aku belum ingin bercinta dengan siapapun. Detik itu aku masih sangat merindu my
first love yang tak mau ku akui sebagai love at first sight itu. Dan terlebih
aku juga masih sangat labil…
Sempat
tak ada komunikasi hingga dua tahun, lantaran aku tinggal di al Hamidiyah dan
tidak diperbolehkan membawa Hp, selain aku juga sangat-sangat menghindarinya
setelah tahu dia mengkhitbahku, sampai akhirnya dia kembali menemukanku via
facebook. Aku selalu dan selalu bersikap cuek dan seolah tak pernah peduli
dengannya, sampai detik kutulis cerita ini aku tak tahu apa sebabnya aku
bersikap seperti itu. Pun, aku tak pernah membencinya atau marah sedikitpun
kepadanya.
Empat
tahun berselang, malam ini 16 Mei 2012, entah mengapa tergerak untuk merespon
sapanya di facebook, aku pun bingung, mengapa obrolan kami bisa begitu hangat,
sampai akhirnya membicarakan pernikahan. Cuplikan chattingku dengannya, :
S: Aq disuruh nikah
dek ama ibuku. Ditanyain terus. Hehehe
L: nggh mpun nuh ndang
d laksanakn titahny ibu, hehee...
S: Sebenernya antara pengen dan bersabar dulu. Lg enjoy sama
kerjaan. Skalian nunggu someone, Hehe… Tp g' tau deh, yg ditunggu mau apa
enggak nantinya. Hahaha
L: jngn bilang
mnungguku loh yaaaa. hahaaa
S: Maunya, Hahaha. Klo
nunggu adek brapa lama lg kira2? Jangan lama2, hahaha
L: jngan mnungguku,
hehee... bkanny menolak, aku tak sbaik yg njenengn kira, terus, aku juga gak
bisa mmastikan kpn dn yg lbh pntg apa jwbnny, hehe... tak serahkn spenuhny k
orgtuaku, aku mnut sj, smpek skrg aku blm trpkir ksana, hehe..
S: :(( Iyah dek. klo
yg namanya jodoh sudah diatur ama Gusti Alloh, Unpredictable, Tp harus yakin
L: btuul, stuju,
unpredictable...
S: Iyah. Dulu almarhum
ayahku yg pengen jodohin aq sama adek. Dan sebenernya aq juga mau. Hehehehe. Tp
kan g' bisa dipaksain juga. Klo adeknya g' mau, kasian adek malahan. Klo nanti
aq disuruh nikah ama ibuku, trus g'bisa nunggu adek lagi, maaf yaaa…
L: owalah, nggh, gpp,
gak usah mnta maaf, aku yg mnta maaf. gpp kok klo nikah duluan, tmbah seneng
aku, hehe.
pilihan ibu insyaAllah
yg trbaik….
S: Iyah. Lg an aq juga
bersyukur dengan menunggu adek. Banyak hal yg indah kulalui Selama menunggu.
Bukan salah adek. Aq jd bisa konsen ke career, alhamdulillah kemarin bisa k
thailand juga, makasih ya dek,
L: alhamdulillah klo
gtu, hehe. mnikah itu pilihan yg harus d prtahankn hngga akhr hayat. Jangan
ragu untuk menjalankan ibadah ini dengan siapapun itu, yang penting sholihah, J waw, keren, thailand…
S: iyah, mencintai
pernikahan itu jauh lebih baik dari menikah karena saling cinta..
Usai
chatting itu aku bahagia, sangat bahagia, sangat merasa lega. Akhirnya,
berkurang 1 orang yang ku PHP, *hahahaa, songong*.
Namun,
saat malam semakin larut, pagi menjelang, aku tak kunjung tertidur, entah
mengapa aku begitu kepikiran dengan chatting tadi. Kuakui dari sekian lelaki
yang menyukaiku dan kusukai atau sekedar ku fans dia termasuk yang sangat baik.
Sangat-sangat menghargaiku, menghormati seorang muslimah. Meskipun aku tak
begitu ingat wajahnya (kecuali lihat fotonya di Fb)dan tak pernah bersua
sekalipun, tak pernah lagi berbincang-bincang langsung sejak 4 tahun silam,
mendengar suaranya pun tak pernah, karena aku memang memintanya untuk tidak
menghubungiku secara langsung kecuali fb, dan dia mengiyakan tanpa tanya, tapi
aku sangat yakin dia orang yang benar-benar baik, ibadahnya, sikapnya,
kebaktiannya pada orangtua. Juga keberaniannya memintaku pada orangtua secara
langsung padahal waktu itu usianya masih 22 tahun dan aku belum genap 16 tahun.
Malam ini untuk pertama kalinya aku memikirkannya begitu lama, malam ini dadaku
merasa sesak, meskipun telah kuhirup nafas dalam-dalam, tetapi masih sesak.
Degup jantungku berdetak lebih dan sangat cepat. Airmata menetes. Sedikit ada
penyesalan, mengapa tak kujawab kalau aku mau dia tunggu???
4
November 2012
status
fb, “tinggal sebuah kenangan,
kertas putih bertinta hitam, dalam hati yang diam,
"telah kudustakan hati, untuk tidak prnah bersua sekalipun, sepatah kata pun aku mmbisu, brlagak tak pernah kenal denganmu. karena aku sangat tidak ingin menodai rasa yg juga fitrahNya ini.
tapi Dia berkehendak lain, dipilihkanNya bintang yang jauh lebih mmpesona untukmu, Slamat..."
*hanya cerita belaka, sedang ingin menulis, jenuh dengan titik2, garis, lingkaran, vektor, geometri dan tetek bengeknya*
"telah kudustakan hati, untuk tidak prnah bersua sekalipun, sepatah kata pun aku mmbisu, brlagak tak pernah kenal denganmu. karena aku sangat tidak ingin menodai rasa yg juga fitrahNya ini.
tapi Dia berkehendak lain, dipilihkanNya bintang yang jauh lebih mmpesona untukmu, Slamat..."
*hanya cerita belaka, sedang ingin menulis, jenuh dengan titik2, garis, lingkaran, vektor, geometri dan tetek bengeknya*
Sebenarnya
bukan sekedar cerita, detik ini aku sedikiiiiit merindunya, si 16 Mei. Sedikit
ada penyesalan saat tahu dia sudah bertunangan dengan teman dari sepupuku.
Memang benar, kata Kahlil Gibran, kita akan merasa sangat mencintai seseorang
saat telah kehilangannya. Tapi ya sudahlah. Jodoh memang unpredictable,
Tuhanpun akan memilihkan untukku yang terbaik, aamiin…
O y,
seorang sahabat berkomentar, “nyata or fiktif?”, hahahaa, aku ngakak pol baca
komentar dari sahabatku yang satu ini.
Tiba-tiba bacaanku pada buku diaryku terhenti disini, seketika itu
pula bayang-bayang sahabat yang berkomentar itu kemudian memenuhi jiwaku. Entah
mengapa aku merasa sangat-sangat teramat sangat merasa bersalah padanya. Kuraih
bantal di depanku dan menelungkupkan wajahku diatas bantal, berteriak sekencang-kencangnya.
Bingung, gelisah, serba salah, tak tahu arah, tak tahu harus berbuat apa, galau
tingkat lanjut diatas tingkat dewa.
Aku malu sangat padanya, secara tak langsung mempermainkannya dan
sekarang malah aku sendiri yang terjebak dalam permainan ini. Aku tak pernah
percaya lelaki, lebih tepatnya tak mau percaya, beberapa kali beberapa lelaki
dengan mudahnya mengatakan cinta, dicuekkan sedikit tak jarang yang malah
mengatakan cinta pada yang lain. Aku tak mau percaya lelaki, mengingat kisah
asmaraku yang tak pernah bahagia. Aku tak mau percaya lelaki, gengsi tingkat
dewa setengah mati untuk mengakui aku menyukai seorang lelaki. Aku tak mau
percaya lelaki, malu teramat malu kalau dipermainkannya, dipermalukannya, dan
dibohonginya, belum lagi kalau ada yang menganggap murahan, gampangan, dan
kata-kata lain selevel itu yang merendahkan, hash. Aku malu.
Kusadari hari-hari terakhir ini aku sangat dekat dengannya, aku tak
pernah sedekat ini dengan lelaki sebelum-sebelumnya. Memori-memori yang terekam
di otak terputar begitu saja, zig-zag, dan terkadang jumping dari satu kenangan
ke kenangan lainnya.
***
Dia, entah mengapa wajahnya begitu mudah kuingat dari pertama
bertemu, padahal aku termasuk tipe-tipe yang sangat sulit mengingat wajah dan
nama orang. Wajah dekan fakultasku saja baru bisa kuingat setelah setahun, dan
wajah rektor sampai sekarang aku tak ingat sedikitpun, hahaa. Ya, mungkin ini
kelebihan orang pelupa, hal-hal penting biasanya memang mudah terlupakan,
sementara hal sepele terkadang bisa sangat mudah di ingat. Waktu pertama itu,
ospek departemen, dia termasuk orang yang gak penting perannya, hanya sebagai
operator yang wajahnya sering tersembunyi di balik laptop, dan pasti tak banyak
anak yang memperhatikan. Aku mendapatinya tersenyum mengetahuiku tertidur di
kelas, mungkin pikirnya, “ih, nih anak sudah duduk depan sendiri, pertama kali
ketemu dosen, dosen lagi bicara, berani-beraninya terkantuk-kantuk”, aku
benar-benar mengingat wajah itu, sambil dalam batin aku berkata, “suatu saat
kamu akan merasakan kantuk yang luar biasa, dan aku yang akan menertawakanmu,
camkan itu”, sambil berharap dia bisa menangkap pesan telepati melalui kontak
batinku.
Mengingat pertemuan pertama itu, membuatku tertawa. Ternyata tak
jauh beda denganku, dia pun ngantukan, pelupa, tak menyukai statistika dan
pemrograman, sama-sama suka conan, sama-sama agak malas -meskipun jauh lebih
malas aku-, sama-sama dari desa, entah ini sengaja atau tidak, kami memang memiliki
banyak persamaan lain. Perbedaan yang agak mencolok dia menyukai olahraga, aku
lebih menyukai sastra. Awalnya aku mengaguminya, tapi hanya sekedar nge-fans.
Dia baik, teramat baik, begitu murah berbagi ilmu, sabar dan tlaten mengajari,
sahabat yang enak di ajak cerita. Aku
mengaguminya, yang meskipun ngantukan tapi rajin bangun jam 2. Aku mengaguminya
yang kekuatan berhubungan intrapersonalnya sangat bagus, dia bisa berteman
dengan siapapun, dan kebanyakan pasti nyaman berteman dengannya, termasuk aku.
Ya, bukan hanya aku saja yang mengaguminya, tapi aku mendapati sahabatku yang
lain sepertinya juga menaruh hati padanya secara diam-diam.
Hmhm, ku tarik nafas dalam-dalam lagi, meskipun ku tahu tak begitu
mengurangi sesak di dada. All is well, sampai detik saat aku menyadari dia
mempunyai rasa yang lain. Aku mulai tak nyaman dengan situasi ini, kekagumanku
padanya mulai luntur, aku tak lagi menikmati gosip yang beredar antara aku
dengannya, aku mulai marah saat orang menggosipkanku dengannya. Aku mulai
menjaga jarak. Mulai agak cuek. Tetapi, ku akui sangat-sangat sulit. Aku
terlanjur cocok bersahabat dengannya. Kuputuskan jujur dengan mengiriminya
pesan di facebook atas ketaknyamananku, inti pesan itu sebenarnya aku
menolaknya secara halus, ya, sehalus mungkin, entah dia merasa atau tidak, aku
tak tahu. Berusaha tak peduli.
Mungkin, aku wanita yang sangat jahat, tega, tidak berhati, atau
apalah, setelah menolaknya aku justru semakin sering merepotkannya, memintanya
mengajariku Geometri Analitik, matkul yang pemahamanku sangat-sangat lemah.
Banyak yang bilang aku hanya memanfaatkannya, hmm mungkin juga. Aku memang
kembali bersikap baik, tidak lagi memaksa diri untuk cuek. Setengah sadar
setengah tidak, aku memang benar-benar memanfaatkannya, memanfaatkannya juga sebagai
pelarianku dari si 16 Mei, aku sangat-sangat malu mau mengakui kalau aku
menyukai 16 mei setelah dia benar-benar tak bisa kuharap, tidak! Aku tak pernah
menyukainya! Aku tidak menyesal dia akan menikah dengan yang lain. *Egoku
selalu lebih tinggi.
Namun sejatinya, aku putus asa, menyerah, dari dulu aku berusaha
keras menjaga cintaku. Setiap kali aku disukai orang atau aku menyukai orang
aku pasti menghindar sebisa mungkin, aku tak siap terluka dan tak mau melukai
siapapun, aku sangat berusaha menjaga cintaku sebaik mungkin, agar aku bisa
mendapatkan cinta itu kelak. Namun ternyata yang terjadi setiap orang yang
kusukai yang sangat kujaga “rasa” itu, semuanya memilih yang lain. Lalu apaguna
sikap sok cuekku sampai tak sedikit yang mengatakan aku sombong, terlalu
pilih-pilih, apaguna? Entah, setan apa yang merasukiku, hingga aku berpikiran
begitu jauh dan sesat. Jiwaku benar-benar labil.
Masih dalam kondisi jiwa yang setengah sadar, aku mulai respect
dengannya, memberinya perhatian lebih juga, semakin sering bercerita dengannya,
semakin sering bercanda, dan aku mulai berani menatap matanya lebih lama.
Sesuatu yang sangat jarang kulakukan pada lelaki, biasanya aku lebih suka menghindari
tatapan mata langsung. Kami menjadi benar-benar begitu dekat. Namun dia juga
masih tetap menghormatiku. Teringat bagaimana dia menjagaku saat aku tertidur
dalam boncengannya. Sebelumnya aku sangat-sangat khawatir bagaimana kalau dia
sampai menyentuh atau memegang tanganku agar tidak terjatuh, ah, tak bisa
kubayangkan bila itu yang terjadi, selain marah tentu akan sangat-sangat malu,
tetapi yang terjadi tidak seperti itu, dia malah memberhentikan motornya dan
menungguku hingga kantuk hilang. Hari-hari ini dia benar-benar mengisi
kekosongan jiwaku, dia benar-benar menghiburku dan membuatku lupa akan rasa
kehilangan dan putus asaku.
“Wiwiting trisno jalaran saka kulina”, mungkin pepatah Jawa ini
yang saat ini sangat cocok denganku. Belum lama ini, sejak kedekatanku
dengannya, beberapa kali harus kuakui, jantungku berdetak sangat cepat saat
bertemu, aku tak kuat lagi memandang matanya lebih lama, ada sesuatu yang
rasanya seperti menusuk kalbu, sakit. Beberapa kali aku seperti orang gila,
gelisah saat smsnya yang hanya emoticon :-p atau J tak kunjung datang menyapa. Dia merebut banyak ruang dihati. Dia
menjadi yang pertama terpikir saat sedih atau bahagia datang. Dia menjadi orang
pertama yang kuinginkan mendengar cerita-cerita dan keluh kesahku. Dia menjadi
begitu sering terpikir, sering membuat gelisah dan khawatir apakah dia sedang
baik-baik saja, sering membuatku menunggu-nunggu kapan bisa melihatnya meskipun
hanya dari jauh. Sangat gelisah, apakah perasaanya padaku masih sama? Apakah
dia benar-benar masih menyimpan harap yang besar ataukah justru dia telah mulai
bosan denganku? Entah mengapa aku begitu ingin menjadi sosok yang juga berharga
untuknya, hanya aku yang dihatinya. Ini bukan lagi pelarian, ini kenyataan yang
mungkin teramat memalukan, saat hatiku benar-benar tertawan.
***
Telah lewat batas, bagaimana bisa kubiarkan benih-benih
amore berbunga dalam jiwaku. Telah lewat batas, bagaimana bisa aku menunjukkan
rasa sayangku, perhatianku, kasihku padanya. Telah lewat batas saat kusadari
aku mulai menggantungkan diri padanya. Telah lewat batas membiarkannya terus
dihatiku dan jiwaku tertawan oleh kelembutannya. Sungguh telah lewat batas.
Semakin sakit saat aku biarkan seperti ini. Ya, sangat perih,
yang tak bisa lagi aku sembunyikan. Bukan karena dia telah menyakitiku, justru dia
terlalu lewat batas baiknya padaku. Tak ingin mempermalukannya, tak ingin
melukainya yang telah sangat baik. Dia yang begitu tulus, lembut, penyabar, tak
pernah marah, tak pantas bila disandingkan denganku, gadis yang penuh
kepura-puraan, yang menjadikannya pelarian meskipun pada akhirnya aku juga
benar-benar merindunya. Namun semakin ku menyayanginya semakin besar
ketakutanku akan kehilangannya. Aku takut pada ketidakpastian akankah kita
masih akan terus saling berharap sampai tiba waktunya pernikahan hingga maut
yang memisahkan? Aku terlalu takut untuk jatuh yang kesekian kalinya. Aku masih
trauma bercinta. Aku tidak siap bila harus mengiba. Meski terkadang aku merasa
dia pun menyimpan yang sama dihatinya. Namun, sudahlah cukup disini saja. Aku tak
ingin meminta lebih darinya. Dia telah ‘menyelamatkan’ jiwaku karena
keputusasaan atas kehilangan, seharusnya aku berterimakasih, bukan malah
mengganggu dan menyita waktunya untukku, bukan malah memintanya menjadi
sandaran.
Kutekadkan hati, meskipun sementara ini terpaksa kembali
bersedih, kupilih untuk melupakan semua harapku padanya. Mungkin sejak hari ini
baiknya aku pergi saja, pergi dari hidupnya. Aku yakin dia butuh banyak waktu
untuk dirinya sendiri dan untuk dunianya, aku tidak seharusnya mengganggunya
terus. Aku sudah cukup kuat sekarang, aku harus bisa menghadapi semuanya
sendiri. Aku pergi dengan melepas semua harapku padanya.
Kuraih buku catatanku yang sedari tadi ku genggam dan
agak-agak basah karena beberapa tetes air mata, hanya beberapa, mungkin tak
lebih dari 7 tetes.
19 November 2012
Ini kali pertama aku menulis tentangnya di catatanku.
Mungkin aku memang terlalu lewat batas mengingkari perasaanku padanya, terlalu
lewat batas memikirkannya, terlalu lewat batas dalam ketakutan-ketakutan yang
tak pernah jelas dan seharusnya bisa kukendalikan ini.
Namun, detik ini aku benar-benar menyerah. Aku yakin
bisa menjalani hari-hari ini sampai cinta yang benar-benar bisa kugenggam erat
menghampiri. Ya, aku akan lebih mencintai pernikahan daripada mencintainya yang
penuh ketakutan akan kehilangan.
Angin, kumohon bisikkan dengan lembut padanya salamku.
“Maaf, sekali lagi bukan karena membencimu, tetapi
teramat sayang, hingga terjebak dalam ketakutan tak bertuan, semoga Dia
menjagamu”, katakan itu, angin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar