Senin, 19 November 2012

Love


7 Agustus 2007
Butuh tiga detik menjatuhcintainya. Awalnya aku tak yakin apakah ini benar-benar cinta. Namun, dirinya selalu terpikirkan olehku dan selalu ada kegugupan saat bertemu. Mungkin aneh atau bahkan tidak pantas aku menyukainya, mengingat usia kami yang terpaut 11 tahun.
Dia seorang guru dari sekolah lain, pertemuan pertama saat dia menjadi official dari salah satu cabang perlombaan dalam PORSENI JATIM 2007. Kami bertemu saat dia mencari muridnya yang kebetulan waktu itu sekamar denganku. Seperti dalam sinetron-sinetron, tak sengaja aku bertabrakan dengannya dan entah mengapa saat aku menatapnya aku merasa sangat-sangat gugup, nafasku sangat-sangat sesak, perutku seperti sakit, dan tiba-tiba spontan aku lari menjauhinya, ada semacam ketakutan yang berbaur dengan suatu rasa yang sulit aku menjelaskannya, tetapi aku sangat bahagia. Hash, kuno banget sih ceritaku…
Dua malam kemarin, 5 agustus, kami semobil saat pulang ke penginapan usai menjadi supporter volly putri Kabupaten Malang yang masuk final. Entah aku yang ke GR an atau memang benar adanya, aku merasa dia memberi perhatian yang berbeda padaku dengan muridnya sendiri.

10 Juni 2008
Hari ini ulangtahunnya. Aku hanya mengucapkan via sms tanpa menyebut namaku. Kami tak pernah bertemu setelah pertemuan waktu PORSENI dulu itu. Pernah beberapa kali kami berhubungan via sms dan telepon. Tetapi kemudian aku berusaha menghilang dan kami benar-benar putus kontak. Aku teramat malu telah menyukainya. Apalagi kudengar dari muridnya dia memang sosok yang sangat perhatian pada siswi-siswinya. Hash, sungguh aku malu telah berprasangka dia memberiku perhatian yang lebih. Dan detik ini aku mulai sedikit agak terbiasa tak merindukannya. Mungkin benar kata orang, hanya butuh tiga detik menjatuhcintai seseorang tetapi butuh waktu yang sangat lama melupakannya. Namun, aku sudah bertekad tak menjadi seseorang yang terluka hanya karena cinta. Aku tak mau percaya dengan love at first sight. Dia bukan cintaku, harus yakin itu. 

19 Mei 2010
Sulit untuk mengungkapkan, ataupun sekedar menulisnya. Bayangannya tak jua lepas dari pikirku. Sulit sekali berhenti untuk sekedar tak mengingatnya sebentar saja. Aaah, benarkah lagi-lagi jiwaku tertawan hanya oleh senyuman lelaki dalam tiga detik? Benarkah ini cinta? Ah, hanya nafsu belaka mungkin.
 Lelaki itu “sang ustadz, juri CC @ma’had al-Hamidiyyah”

23 Mei 2010
Ada kebanggaan tersendiri saat juara 1 CC untuk kedua kalinya berhasil kupertahankan. Namun ada penyesalan yang sangat dalam, mengikuti CC ini membuatku bertemu dengan ustadz itu, apalagi saat penyerahan piala ustadz itu yang langsung memberikan. Kuamati beberapa kali dia tersenyum sambil menunduk dan matanya terpejam. Padahal kata santri-santri lain yang diajarnya, sang Ustadz jarang sekali tersenyum, dia sangat-sangat menjaga pandangan. Ah, aku tidak ingin ke-Gr-an lagi untuk keduanya.
Jujur, aku suka rasa ini, tapi juga sangat benci. Aku tahu aku dilarang keras membiarkan bayangannya terus menari-nari dihatiku. Aku sadar resikonya bila terus kubiarkan rasa ini berlarut-larut dijiwaku. Aku tahu, aku salah besar. Aku hanyalah sekedar santri “semelekethe” yang kelakuanku masih edan dan sangat hancur. Sangat-sangat tak pantas untuk sekedar menaruh harap atau merindukannya, seorang ustadz yang subhanalloh begitu tawadlu’, alim, cerdas, ghodul bashor, kalem banget, cakep tentunya, perfectlah dimataku. Sungguh, teramat salah sekali aku, terlebih mengetahui dia sudah ditunangkan dengan putri kyaiku.
Aku mohon ini hanyalah sekedar rasa kagum, not more, atau layaknya remaja lain yang begitu mudah berpindah-pindah hati, mudah jatuh cinta, mudah pula melupakan. Aku mohon, jangan ada lagi pertemuan dengannya. Aku mohon kubur dalam-dalam bayangannya dan rasa ini. Aku mohon…, pintaku ditiap tengah sujudku sejak pertemuan dengannya.

 16 Mei 2012.
Tumpuk! Awalnya bahagia tak terperikan tapi entah kemudian mengapa ada sedikit rasa yang mengganjal dihatiku, kebahagiaan yang bertumpuk dengan rasa kehilangan. Tepat empat tahun dari perkenalan pertama. Tepat, selalu jatuh pada hari ulangtahunnya.
Dulu, empat tahun yang lalu, di pertemuan pertama yang mungkin juga pertemuan terakhir sampai detik ini, yang aku bahkan tak ingat wajahnya. Waktu itu sekitar Maret 2008, saat menghadiri pernikahan kakaknya yang juga adalah guruku, dia sebagai fotografer, tapi aku tak begitu sempat memperhatikannya. Anehnya, kuingat betul malam harinya aku tiba-tiba memimpikannya, meskipun tak jelas wajahnya, tapi entah apa yang membuatku begitu yakin dialah yang dimimpiku, meskipun aku belum mengenalnya. Aku mengenalnya kemudian hari, saat 16 Mei 2008, kehadiran pertamaku yang masih dengan hangat kuingat disebutnya sebagai kado terindah, meskipun kehadiranku yang hanya via sms, berawal dari kesalahkirimanku, mampu membuat kami dekat sampai beberapa hari kemudian dia mengkhitbahku ke orangtuaku. Tak bisa kujelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Hei, aku masih belum genap 16 tahun, langkahku masih panjang, dan sedikitpun aku belum ingin bercinta dengan siapapun. Detik itu aku masih sangat merindu my first love yang tak mau ku akui sebagai love at first sight itu. Dan terlebih aku juga masih sangat labil…
Sempat tak ada komunikasi hingga dua tahun, lantaran aku tinggal di al Hamidiyah dan tidak diperbolehkan membawa Hp, selain aku juga sangat-sangat menghindarinya setelah tahu dia mengkhitbahku, sampai akhirnya dia kembali menemukanku via facebook. Aku selalu dan selalu bersikap cuek dan seolah tak pernah peduli dengannya, sampai detik kutulis cerita ini aku tak tahu apa sebabnya aku bersikap seperti itu. Pun, aku tak pernah membencinya atau marah sedikitpun kepadanya.
Empat tahun berselang, malam ini 16 Mei 2012, entah mengapa tergerak untuk merespon sapanya di facebook, aku pun bingung, mengapa obrolan kami bisa begitu hangat, sampai akhirnya membicarakan pernikahan. Cuplikan chattingku dengannya, :
S: Aq disuruh nikah dek ama ibuku. Ditanyain terus. Hehehe
L: nggh mpun nuh ndang d laksanakn titahny ibu, hehee...
S: Sebenernya antara pengen dan bersabar dulu. Lg enjoy sama kerjaan. Skalian nunggu someone, Hehe… Tp g' tau deh, yg ditunggu mau apa enggak nantinya. Hahaha
L: jngn bilang mnungguku loh yaaaa. hahaaa
S: Maunya, Hahaha. Klo nunggu adek brapa lama lg kira2? Jangan lama2, hahaha
L: jngan mnungguku, hehee... bkanny menolak, aku tak sbaik yg njenengn kira, terus, aku juga gak bisa mmastikan kpn dn yg lbh pntg apa jwbnny, hehe... tak serahkn spenuhny k orgtuaku, aku mnut sj, smpek skrg aku blm trpkir ksana, hehe..
S: :(( Iyah dek. klo yg namanya jodoh sudah diatur ama Gusti Alloh, Unpredictable, Tp harus yakin
L: btuul, stuju, unpredictable...
S: Iyah. Dulu almarhum ayahku yg pengen jodohin aq sama adek. Dan sebenernya aq juga mau. Hehehehe. Tp kan g' bisa dipaksain juga. Klo adeknya g' mau, kasian adek malahan. Klo nanti aq disuruh nikah ama ibuku, trus g'bisa nunggu adek lagi, maaf yaaa…
L: owalah, nggh, gpp, gak usah mnta maaf, aku yg mnta maaf. gpp kok klo nikah duluan, tmbah seneng aku, hehe.
pilihan ibu insyaAllah yg trbaik….
S: Iyah. Lg an aq juga bersyukur dengan menunggu adek. Banyak hal yg indah kulalui Selama menunggu. Bukan salah adek. Aq jd bisa konsen ke career, alhamdulillah kemarin bisa k thailand juga, makasih ya dek,
L: alhamdulillah klo gtu, hehe. mnikah itu pilihan yg harus d prtahankn hngga akhr hayat. Jangan ragu untuk menjalankan ibadah ini dengan siapapun itu, yang penting sholihah, J waw, keren, thailand…
S: iyah, mencintai pernikahan itu jauh lebih baik dari menikah karena saling cinta..

Usai chatting itu aku bahagia, sangat bahagia, sangat merasa lega. Akhirnya, berkurang 1 orang yang ku PHP, *hahahaa, songong*.
Namun, saat malam semakin larut, pagi menjelang, aku tak kunjung tertidur, entah mengapa aku begitu kepikiran dengan chatting tadi. Kuakui dari sekian lelaki yang menyukaiku dan kusukai atau sekedar ku fans dia termasuk yang sangat baik. Sangat-sangat menghargaiku, menghormati seorang muslimah. Meskipun aku tak begitu ingat wajahnya (kecuali lihat fotonya di Fb)dan tak pernah bersua sekalipun, tak pernah lagi berbincang-bincang langsung sejak 4 tahun silam, mendengar suaranya pun tak pernah, karena aku memang memintanya untuk tidak menghubungiku secara langsung kecuali fb, dan dia mengiyakan tanpa tanya, tapi aku sangat yakin dia orang yang benar-benar baik, ibadahnya, sikapnya, kebaktiannya pada orangtua. Juga keberaniannya memintaku pada orangtua secara langsung padahal waktu itu usianya masih 22 tahun dan aku belum genap 16 tahun. Malam ini untuk pertama kalinya aku memikirkannya begitu lama, malam ini dadaku merasa sesak, meskipun telah kuhirup nafas dalam-dalam, tetapi masih sesak. Degup jantungku berdetak lebih dan sangat cepat. Airmata menetes. Sedikit ada penyesalan, mengapa tak kujawab kalau aku mau dia tunggu???

4 November 2012
status fb, “tinggal sebuah kenangan, kertas putih bertinta hitam, dalam hati yang diam, 
"telah kudustakan hati, untuk tidak prnah bersua sekalipun, sepatah kata pun aku mmbisu, brlagak tak pernah kenal denganmu. karena aku sangat tidak ingin menodai rasa yg juga fitrahNya ini.
tapi Dia berkehendak lain, dipilihkanNya bintang yang jauh lebih mmpesona untukmu, Slamat..."
*hanya cerita belaka, sedang ingin menulis, jenuh dengan titik2, garis, lingkaran, vektor, geometri dan tetek bengeknya*
Sebenarnya bukan sekedar cerita, detik ini aku sedikiiiiit merindunya, si 16 Mei. Sedikit ada penyesalan saat tahu dia sudah bertunangan dengan teman dari sepupuku. Memang benar, kata Kahlil Gibran, kita akan merasa sangat mencintai seseorang saat telah kehilangannya. Tapi ya sudahlah. Jodoh memang unpredictable, Tuhanpun akan memilihkan untukku yang terbaik, aamiin…
O y, seorang sahabat berkomentar, “nyata or fiktif?”, hahahaa, aku ngakak pol baca komentar dari sahabatku yang satu ini.

Tiba-tiba bacaanku pada buku diaryku terhenti disini, seketika itu pula bayang-bayang sahabat yang berkomentar itu kemudian memenuhi jiwaku. Entah mengapa aku merasa sangat-sangat teramat sangat merasa bersalah padanya. Kuraih bantal di depanku dan menelungkupkan wajahku diatas bantal, berteriak sekencang-kencangnya. Bingung, gelisah, serba salah, tak tahu arah, tak tahu harus berbuat apa, galau tingkat lanjut diatas tingkat dewa.
Aku malu sangat padanya, secara tak langsung mempermainkannya dan sekarang malah aku sendiri yang terjebak dalam permainan ini. Aku tak pernah percaya lelaki, lebih tepatnya tak mau percaya, beberapa kali beberapa lelaki dengan mudahnya mengatakan cinta, dicuekkan sedikit tak jarang yang malah mengatakan cinta pada yang lain. Aku tak mau percaya lelaki, mengingat kisah asmaraku yang tak pernah bahagia. Aku tak mau percaya lelaki, gengsi tingkat dewa setengah mati untuk mengakui aku menyukai seorang lelaki. Aku tak mau percaya lelaki, malu teramat malu kalau dipermainkannya, dipermalukannya, dan dibohonginya, belum lagi kalau ada yang menganggap murahan, gampangan, dan kata-kata lain selevel itu yang merendahkan, hash. Aku malu.
Kusadari hari-hari terakhir ini aku sangat dekat dengannya, aku tak pernah sedekat ini dengan lelaki sebelum-sebelumnya. Memori-memori yang terekam di otak terputar begitu saja, zig-zag, dan terkadang jumping dari satu kenangan ke kenangan lainnya.
***
Dia, entah mengapa wajahnya begitu mudah kuingat dari pertama bertemu, padahal aku termasuk tipe-tipe yang sangat sulit mengingat wajah dan nama orang. Wajah dekan fakultasku saja baru bisa kuingat setelah setahun, dan wajah rektor sampai sekarang aku tak ingat sedikitpun, hahaa. Ya, mungkin ini kelebihan orang pelupa, hal-hal penting biasanya memang mudah terlupakan, sementara hal sepele terkadang bisa sangat mudah di ingat. Waktu pertama itu, ospek departemen, dia termasuk orang yang gak penting perannya, hanya sebagai operator yang wajahnya sering tersembunyi di balik laptop, dan pasti tak banyak anak yang memperhatikan. Aku mendapatinya tersenyum mengetahuiku tertidur di kelas, mungkin pikirnya, “ih, nih anak sudah duduk depan sendiri, pertama kali ketemu dosen, dosen lagi bicara, berani-beraninya terkantuk-kantuk”, aku benar-benar mengingat wajah itu, sambil dalam batin aku berkata, “suatu saat kamu akan merasakan kantuk yang luar biasa, dan aku yang akan menertawakanmu, camkan itu”, sambil berharap dia bisa menangkap pesan telepati melalui kontak batinku.
Mengingat pertemuan pertama itu, membuatku tertawa. Ternyata tak jauh beda denganku, dia pun ngantukan, pelupa, tak menyukai statistika dan pemrograman, sama-sama suka conan, sama-sama agak malas -meskipun jauh lebih malas aku-, sama-sama dari desa, entah ini sengaja atau tidak, kami memang memiliki banyak persamaan lain. Perbedaan yang agak mencolok dia menyukai olahraga, aku lebih menyukai sastra. Awalnya aku mengaguminya, tapi hanya sekedar nge-fans. Dia baik, teramat baik, begitu murah berbagi ilmu, sabar dan tlaten mengajari, sahabat yang enak di ajak cerita.  Aku mengaguminya, yang meskipun ngantukan tapi rajin bangun jam 2. Aku mengaguminya yang kekuatan berhubungan intrapersonalnya sangat bagus, dia bisa berteman dengan siapapun, dan kebanyakan pasti nyaman berteman dengannya, termasuk aku. Ya, bukan hanya aku saja yang mengaguminya, tapi aku mendapati sahabatku yang lain sepertinya juga menaruh hati padanya secara diam-diam.
Hmhm, ku tarik nafas dalam-dalam lagi, meskipun ku tahu tak begitu mengurangi sesak di dada. All is well, sampai detik saat aku menyadari dia mempunyai rasa yang lain. Aku mulai tak nyaman dengan situasi ini, kekagumanku padanya mulai luntur, aku tak lagi menikmati gosip yang beredar antara aku dengannya, aku mulai marah saat orang menggosipkanku dengannya. Aku mulai menjaga jarak. Mulai agak cuek. Tetapi, ku akui sangat-sangat sulit. Aku terlanjur cocok bersahabat dengannya. Kuputuskan jujur dengan mengiriminya pesan di facebook atas ketaknyamananku, inti pesan itu sebenarnya aku menolaknya secara halus, ya, sehalus mungkin, entah dia merasa atau tidak, aku tak tahu. Berusaha tak peduli.
Mungkin, aku wanita yang sangat jahat, tega, tidak berhati, atau apalah, setelah menolaknya aku justru semakin sering merepotkannya, memintanya mengajariku Geometri Analitik, matkul yang pemahamanku sangat-sangat lemah. Banyak yang bilang aku hanya memanfaatkannya, hmm mungkin juga. Aku memang kembali bersikap baik, tidak lagi memaksa diri untuk cuek. Setengah sadar setengah tidak, aku memang benar-benar memanfaatkannya, memanfaatkannya juga sebagai pelarianku dari si 16 Mei, aku sangat-sangat malu mau mengakui kalau aku menyukai 16 mei setelah dia benar-benar tak bisa kuharap, tidak! Aku tak pernah menyukainya! Aku tidak menyesal dia akan menikah dengan yang lain. *Egoku selalu lebih tinggi.
Namun sejatinya, aku putus asa, menyerah, dari dulu aku berusaha keras menjaga cintaku. Setiap kali aku disukai orang atau aku menyukai orang aku pasti menghindar sebisa mungkin, aku tak siap terluka dan tak mau melukai siapapun, aku sangat berusaha menjaga cintaku sebaik mungkin, agar aku bisa mendapatkan cinta itu kelak. Namun ternyata yang terjadi setiap orang yang kusukai yang sangat kujaga “rasa” itu, semuanya memilih yang lain. Lalu apaguna sikap sok cuekku sampai tak sedikit yang mengatakan aku sombong, terlalu pilih-pilih, apaguna? Entah, setan apa yang merasukiku, hingga aku berpikiran begitu jauh dan sesat. Jiwaku benar-benar labil.
Masih dalam kondisi jiwa yang setengah sadar, aku mulai respect dengannya, memberinya perhatian lebih juga, semakin sering bercerita dengannya, semakin sering bercanda, dan aku mulai berani menatap matanya lebih lama. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan pada lelaki, biasanya aku lebih suka menghindari tatapan mata langsung. Kami menjadi benar-benar begitu dekat. Namun dia juga masih tetap menghormatiku. Teringat bagaimana dia menjagaku saat aku tertidur dalam boncengannya. Sebelumnya aku sangat-sangat khawatir bagaimana kalau dia sampai menyentuh atau memegang tanganku agar tidak terjatuh, ah, tak bisa kubayangkan bila itu yang terjadi, selain marah tentu akan sangat-sangat malu, tetapi yang terjadi tidak seperti itu, dia malah memberhentikan motornya dan menungguku hingga kantuk hilang. Hari-hari ini dia benar-benar mengisi kekosongan jiwaku, dia benar-benar menghiburku dan membuatku lupa akan rasa kehilangan dan putus asaku.
“Wiwiting trisno jalaran saka kulina”, mungkin pepatah Jawa ini yang saat ini sangat cocok denganku. Belum lama ini, sejak kedekatanku dengannya, beberapa kali harus kuakui, jantungku berdetak sangat cepat saat bertemu, aku tak kuat lagi memandang matanya lebih lama, ada sesuatu yang rasanya seperti menusuk kalbu, sakit. Beberapa kali aku seperti orang gila, gelisah saat smsnya yang hanya emoticon :-p atau J tak kunjung datang menyapa. Dia merebut banyak ruang dihati. Dia menjadi yang pertama terpikir saat sedih atau bahagia datang. Dia menjadi orang pertama yang kuinginkan mendengar cerita-cerita dan keluh kesahku. Dia menjadi begitu sering terpikir, sering membuat gelisah dan khawatir apakah dia sedang baik-baik saja, sering membuatku menunggu-nunggu kapan bisa melihatnya meskipun hanya dari jauh. Sangat gelisah, apakah perasaanya padaku masih sama? Apakah dia benar-benar masih menyimpan harap yang besar ataukah justru dia telah mulai bosan denganku? Entah mengapa aku begitu ingin menjadi sosok yang juga berharga untuknya, hanya aku yang dihatinya. Ini bukan lagi pelarian, ini kenyataan yang mungkin teramat memalukan, saat hatiku benar-benar tertawan.
***
Telah lewat batas, bagaimana bisa kubiarkan benih-benih amore berbunga dalam jiwaku. Telah lewat batas, bagaimana bisa aku menunjukkan rasa sayangku, perhatianku, kasihku padanya. Telah lewat batas saat kusadari aku mulai menggantungkan diri padanya. Telah lewat batas membiarkannya terus dihatiku dan jiwaku tertawan oleh kelembutannya. Sungguh telah lewat batas.
Semakin sakit saat aku biarkan seperti ini. Ya, sangat perih, yang tak bisa lagi aku sembunyikan. Bukan karena dia telah menyakitiku, justru dia terlalu lewat batas baiknya padaku. Tak ingin mempermalukannya, tak ingin melukainya yang telah sangat baik. Dia yang begitu tulus, lembut, penyabar, tak pernah marah, tak pantas bila disandingkan denganku, gadis yang penuh kepura-puraan, yang menjadikannya pelarian meskipun pada akhirnya aku juga benar-benar merindunya. Namun semakin ku menyayanginya semakin besar ketakutanku akan kehilangannya. Aku takut pada ketidakpastian akankah kita masih akan terus saling berharap sampai tiba waktunya pernikahan hingga maut yang memisahkan? Aku terlalu takut untuk jatuh yang kesekian kalinya. Aku masih trauma bercinta. Aku tidak siap bila harus mengiba. Meski terkadang aku merasa dia pun menyimpan yang sama dihatinya. Namun, sudahlah cukup disini saja. Aku tak ingin meminta lebih darinya. Dia telah ‘menyelamatkan’ jiwaku karena keputusasaan atas kehilangan, seharusnya aku berterimakasih, bukan malah mengganggu dan menyita waktunya untukku, bukan malah memintanya menjadi sandaran.
Kutekadkan hati, meskipun sementara ini terpaksa kembali bersedih, kupilih untuk melupakan semua harapku padanya. Mungkin sejak hari ini baiknya aku pergi saja, pergi dari hidupnya. Aku yakin dia butuh banyak waktu untuk dirinya sendiri dan untuk dunianya, aku tidak seharusnya mengganggunya terus. Aku sudah cukup kuat sekarang, aku harus bisa menghadapi semuanya sendiri. Aku pergi dengan melepas semua harapku padanya.
Kuraih buku catatanku yang sedari tadi ku genggam dan agak-agak basah karena beberapa tetes air mata, hanya beberapa, mungkin tak lebih dari 7 tetes.

19 November 2012
Ini kali pertama aku menulis tentangnya di catatanku. Mungkin aku memang terlalu lewat batas mengingkari perasaanku padanya, terlalu lewat batas memikirkannya, terlalu lewat batas dalam ketakutan-ketakutan yang tak pernah jelas dan seharusnya bisa kukendalikan ini.
Namun, detik ini aku benar-benar menyerah. Aku yakin bisa menjalani hari-hari ini sampai cinta yang benar-benar bisa kugenggam erat menghampiri. Ya, aku akan lebih mencintai pernikahan daripada mencintainya yang penuh ketakutan akan kehilangan.
Angin, kumohon bisikkan dengan lembut padanya salamku.
“Maaf, sekali lagi bukan karena membencimu, tetapi teramat sayang, hingga terjebak dalam ketakutan tak bertuan, semoga Dia menjagamu”, katakan itu, angin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar