Dalam sebuah riwayat yang diungkapkan Ash-Shabuni, alkisah, ada seorang badui yang jelek, pendek, hitam, bisa menikahi seorang wanita yang parasnya sangat-sangat cantik. Pada suatu hari, saat lelaki itu sedang memandangi istrinya sambil tak pernah lupa memanjatkan hamdalah, sang istri kemudian berkata, “aku yakin, nanti kita akan bersama-sama lagi di surga, insyaAllah”. Lelaki tersebut terheran-heran dengan perkataan istrinya, bagaimana bisa dia begitu yakin akan masuk surga bersama. Masih dengan penuh keyakinan, istrinya menjawab “Iya, karena engkau selalu bersyukur dianugrahi istri sepertiku, dan aku selalu bersabar mempunyai suami sepertimu, bukankah orang yang bersyukur dan bersabar akan masuk surga”. Dan kenyataannya, suami-istri tersebut memang masuk surga.
Lalu apa hikmah dari
kisah tersebut? Haruskah kita mencari pasangan yang buruk rupa lalu bersabar
dengan rupanya yang buruk itu? Ah, tentu terlalu naif jika kita hanya memaknainya
seperti itu.
Jodoh itu di tangan
Tuhan, tak bisa ditebak. Belum pasti yang kaya dapat kaya, yang ganteng sama
yang cantik, yang darah biru sama sesama darah biru, yang ustadz dapat
ustadzah, dan sebagainya. Lalu bagaiman jika ditakdirkan menikah dengan
pasangan yang sikapnya sering bikin gregetan? Mengutip ungkapan Ka’ab
Al-Akhbar, “suami yang bersabar atas perilaku istrinya layak mendapat pahala
seperti nabi Ayyub. Sedangkan istri yang bersabar atas penganiaayaan suaminya
layak mendapat pahala seperti Asiyah, istri Fir’aun.”
Namun, hikmah kisah di
atas tak melulu tentang jodoh, melainkan lebih menekankan tentang kesabaran dan
bersyukur. Bagaimanapun kelebihan dan kekurangan diri kita, mari tingkatkan
sabar dan syukur, sehingga berani bersahabat dengan masalah. Begitu pun sebagai
pelajar, harus senantiasa bersabar dengan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi.
Sudah belajar 3x, tapi masih belum mengerti ya mari ditingkatkan sampai 5x. Pun
sampai 9x belum begitu paham, mari bersabar. Wujud kesabaran itu antara lain ya
menambah frekuensi belajar, tak cukup 10x ya berkali-kali dan seterusnya. Selain
itu juga harus senantiasa bersyukur, sembari meyakini bahwa Allah akan menambah
nikmat hamba-Nya yang bersyukur, J
“Sungguh mengagumkan
melihat urusan orang mukmin, baginya, semua masalah adalah baik. Dan, sikap
yang demikian tidaklah terjadi kecuali oleh orang beriman. Jika dia mendapatkan
kebahagiaan dia bersyukur dan itu adalah hal yang baik baginya, dan jika dia
mendapatkan keburukan dia bersabar, dan itu adalah hal baik baginya.” (HR.
Muslim No. 2999, Ibnu Hibban No. 2896)
Senyum2 sendiri mbacanya
BalasHapushaaaa... pak mursyid kok bisa sampai nemu blog ini. saya bahkan lupa kalo pernah nulis ini di blog. saya bahkan gak inget punya blog, sanda buka blog ini pun lupa
Hapus